Entah sejak kapan Naira selalu berhasil memenuhi pikirannya.
Pikirannya melayang pada pertemuan pertama mereka di seminar kampus. Saat itu Naira hanyalah salah satu mahasiswa yang ia temui. Sesuatu yang biasa, karena ia bertemu banyak orang dalam keseharian. Namun gelagat Naira hari itu membuatnya lebih mengingat dan memperhatikannya.
"Aku ingin memastikan tidak ada kesalahan."
Kalimat sederhana itu terdengar biasa. Namun, cara Naira mengucapkannya membuat Rendra menangkap sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar takut gagal, melainkan takut mengecewakan.
Setelah itu mereka kembali bertemu di taman kampus. Naira duduk sendirian dengan mata sembab. Meski jelas sedang berantakan, hal pertama yang keluar dari mulutnya justru, maaf, maaf dan maaf. Terus meminta maaf atas kesalahan yang tidak ada, atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Rendra masih ingat betapa bingungnya ia saat itu.
Orang yang sedang hancur biasanya meminta bantuan. Naira justru meminta maaf karena membutuhkan bantuan. Sejak saat itu, ia mulai memperhatikan. Naira hampir tidak pernah menerima pertolongan tanpa merasa bersalah. Ia selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri, lalu meminta maaf ketika akhirnya tidak sanggup.
Sebagai seorang psikolog, Rendra tahu itu bukan sekadar perfeksionisme. Naira terbiasa menganggap dirinya beban, sang gadis takut keberadaannya menyulitkan orang lain. Rasa takut itu muncul hampir di setiap hal kecil yang dilakukannya.
Ingatannya berpindah pada malam ketika Naira pingsan di dalam mobilnya. Bahkan setelah sadar di rumah sakit, wajah pucat itu masih sempat berbisik pelan. "Maaf." Kata itu lagi, sebuah kata yang mulai membuat Rendra muak ketika Naira mengucapkannya.
Saat itu Rendra hanya menghela napas. "Kamu tidak merepotkan siapa pun." Sayangnya, Naira tak pernah benar-benar percaya.
Lalu malam ketika Naira menginap di rumahnya, Rendra melihat gadis itu tidur tanpa mengernyit, tanpa gelisah, tanpa sesekali terbangun karena mimpi buruk. Ia berdiri cukup lama di depan pintu kamar tamu malam itu.