Ponsel Rendra berdering tepat ketika ia baru saja menyelesaikan jadwal praktik paginya. Nama ayahnya terpampang di layar. Ia sudah menduga telepon itu akan datang cepat atau lambat. Ia sudah menunggu, tanpa ragu sang dokter muda mengangkat telpon tersebut.
"Rendra, pulang malam ini." Rendra bahkan belum menyapa, namun suara tegas milik sang ayah sudah terdengar dari panggilan itu.
"Ada yang harus kita bicarakan."
Rendra mengembuskan napas pelan. "Apa ini tentang pertunangan?"
"Tentu saja. Semua orang sedang membicarakannya. Keluarga Kirana meminta penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi?."
Rendra terdiam sesaat. Sejak awal, pertunangan itu memang bukan keinginannya. Itu adalah kesepakatan dua keluarga yang telah direncanakan jauh sebelum ia benar-benar memahami apa yang ia inginkan.
"Aku hanya tidak ingin melanjutkan hubungan yang tidak bisa aku jalani dengan tulus." Rendra memutar kursinya, menatap lurus ke luar jendela.
"Itu bukan alasan yang tepat untuk membatalkan pertunangan ini."
"Justru karena itulah, aku tidak mau meneruskannya dengan kebohongan."
Di seberang telepon terdengar sang ayah menghela panjang. Jelas ayahnya tidak suka dengan jawabannya.
"Lalu bagaimana dengan perempuan itu?."
Rendra mengernyit.
"Perempuan yang akhir-akhir ini sering bersamamu."
Ia langsung tahu siapa yang dimaksud.