Sejak pagi, berita mengenai pembatalan pertunangan Rendra masih memenuhi berbagai media. Naira sudah berusaha menghindari semua pemberitaan itu, tetapi rasanya mustahil. Di kampus, orang-orang membicarakannya. Di media sosial, namanya terus muncul bersamaan dengan berbagai spekulasi yang semakin liar.
Foto dirinya bersama Rendra yang diambil dari kejauhan pun mulai beredar. Meski wajahnya tidak terlihat jelas, Naira tahu cepat atau lambat orang akan mengenalinya.
Menjelang sore, Azzura menghubunginya dan memintanya pulang. Tidak ada penjelasan, hanya dua kalimat singkat yang membuat langkah Naira terasa semakin berat.
"Pulang ke rumah sekarang. Ada yang perlu kami bicarakan." Ia sudah bisa menebak apa yang menunggunya di rumah.
Begitu pintu terbuka, suasana hening langsung menyambutnya. Azzura duduk di ruang tamu bersama Nadira, Rafandra, dan Arsyan. Tidak ada senyum maupun sapaan seperti biasanya. Di atas meja, sebuah ponsel menampilkan berita tentang Rendra dengan judul yang cukup mencolok.
Naira menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di hadapan mereka. Seharusnya ia sudah tahu. Cepat atau lambat hal ini akan terjadi.
"Kamu tahu pria ini?" Azzura membuka pembicaraan tanpa berputar-putar. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Naira mengenai hubungannya dengan Rendra dan alasan mengapa foto mereka bisa tersebar di berbagai media. Nada bicaranya tetap tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat Naira semakin gugup.
Dengan suara pelan, gadis itu berkata. "Ya. Dokter Rendra banyak membantuku." Naira menjelaskan semuanya. Ia menceritakan bahwa Rendra hanya banyak membantunya selama beberapa bulan terakhir.
Kedekatan mereka tidak pernah melewati batas, apalagi sampai membuat Rendra membatalkan pertunangannya. Keputusan itu sepenuhnya diambil oleh Rendra sendiri dan sama sekali tidak pernah dibicarakan dengannya.
Sayangnya, penjelasan itu tidak banyak mengubah suasana.
Azzura mendengus kesal, tangannya terlipat di depan dada sebelum menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Masalahnya bukan lagi soal kamu benar atau salah." Tatapannya tetap tenang, tetapi sorot matanya tajam yang menakutkan. Sejak ayah dan ibu meninggal, ia bertanggung jawab sekaligus mempertahankan nama baik keluarga. Karena itu, ia tidak ingin satu pemberitaan membuat orang memandang keluarga mereka dengan cara yang berbeda.
"Orang tidak akan mencari tahu siapa yang salah," lanjutnya. "Mereka hanya akan mengingat nama yang muncul di berita."
Nadira yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. Nada suaranya jauh lebih pelan, namun tetap tajam dan menghakimi.