Kalimat itu, kembali melukai hati Gista. Ia tidak suka dengan cara Gavi menyampaikan pendapatnya. Namun, di saat yang bersamaan Gista membenci dirinya karena tidak memiliki keberanian untuk mengatakan apapun.
Seandainya, tadi ia mengiyakan ajakan Gavi. Mungkin Gavi tidak akan se kesal ini dan dia akan bisa bersikap lebih baik kepadanya.
Namun, setelah rangkaian penolakan yang di berikannya. Membuat Gavi lepas kendali dan setiap yang di ucapkannya terasa menyayat hatinya meninggalkan luka yang di milikinya semakin membesar.
Dan sekarang semuanya telah terjadi, tidak seharusnya ia larut dalam penyesalan. Yang Gista perlu lakukan sekarang adalah segera mengakhiri situasi ini dengan cepat.
“Kamu benar Gav, aku ngga mungkin lakuin hal itu.”
“Aku balik sekarang, terserah kamu mau lakuin apa. Aku, gapeduli!” balas Gista, ia mengakhiri semuanya. Meninggalkan ruangan yang terasa terus membakar perasaannya.
“Ahhhh ...,” Gavi berdecak kesal dengan perasaan tercekat terus menghampirinya.
Sekali lagi, semua tidak berjalan dengan rencananya. Ia pikir, hubungannya dengan Gista akan segera membaik. Namun, ia salah, ia kehilangan kendali dan membuat segalanya semakin keruh.
Sekarang, ia tidak tahu bisa menghadapinya dengan cara seperti apa?
“Maaf, sepertinya aku melakukan kesalahan,” merasa bersalah, Gavi segera mengirimi pesan berisi permintaan maafnya kepada Gista.
“Saat kamu sudah merasa bisa bicara, panggil aku kapan saja!” pesan berikutnya, mengatakan keinginannya untuk bisa bicara dengan Gista lagi.
Setelah membaca pesan itu, Gista juga merasakan hal yang sama. Ia juga ingin berbicara dan menjelaskan apa yang di rasakannya. Namun, ada hal lain yang masih menahannya. Gista belum siap menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
Hal itu kembali mendorongnya untuk mengabaikan pesan dari Gavi lagi.
##
Jam pelajaran berakhir, para siswa segera pindah memenuhi ruang latihan. Disana, keduanya sempat berpapasan dan saling bertukar pandangan.
Namun, kejadian di kantin tadi siang memberi efek yang dan membuat keduanya untuk mengambil jarak dari satu sama lain.
Lima belas menit latihan di mulai, Gavi berada disana mengawal semuanya dari tiap bagian ke bagian lainnya.
Dan di lima menit berikutnya, ia meninggalkan ruangan setelah mendapat sebuah panggilan dari Revi.
Pergerakan kecil itu, tak lepas dari perhatian Gista.
**
Setelah mendapat panggilan telpon dari temannya, Gavi segera bergegas menuju kelasnha untuk mengambil barang-barangnya.
Dengan langkah terburu-buru, ia menuju parkiran.
Disana terdapat, Abuy, Renata dan juga Revi yang sudah lama menunggunya.