Dearly

MiiraR
Chapter #52

Anser

“Gimana Rev, Ren?” tanya Gavi, meminta pendapat keduanya setelah bicara panjang kali lebar.

Revi terdiam, ia tidak tahu harus memberi reaksi apapun. Seperti biasa, anak ini selalu memberinya banyak kejutan.

“Kalau itu keputusan lo, dan itu prioritas penting menurut lo. Selain dukung lo, kita ngga tahu bisa bantu lo dengan cara apa lagi,” balas Renata mengatakan pendapatnya lebih dahulu.

Revi mengangguk setuju, ia masih berusaha mencerna semuanya. Dan disisi lain, Renata berhasil memberi jawaban yang terasa mewakilinya.

“Gue ngga tahu juga keputusan ini benar atau ngga. yang gue tahu, ini satu-satunya keputusan yang bisa gue ambil sekarang,” balas Gavi, menunjukkan kekhawatirannya.

“Lo tahu kan dua-duanya penting banget gue, dan buat ngelepasin salah satunya, gue belum bisa.”

“Mungkin terdengar seperti ke serakahan. Tapi, ya kalian tahulah maksud gue?” ujar Gavi kembali memperjelas semuanya.

“Iya, kita ngerti kok Gav. Dan, ini sama penting nya juga buat masa depan lo. Jadi lo ngga perlu merasa bersalah,” ujar Revi, memberi jawaban dari sudut pandangnya.

“Toh, selama ini lo juga udah lakuin semuanya kok buat kita. Jadi wajar aja kalau sekarang lo mikir tentang diri lo.”

“Kalau bukan kita sendiri yang peduli sama kita, siapa lagi? di jaman sekarang tuh sulit tahu buat bisa percaya sama orang.”

“Yaa, kan Ren?” tanya Revi meminta persetujuan dari renata.

“Iya, benar. Gue pikir juga gitu!”

“Setelah apa yang lo lakuin buat sekolah, udah saatnya lo mulai nata masa depan lo sendiri,” sahut Renata menambahi ucapan Revi.

Gavi mengangguk setuju, puas dengan jawaban yang ia dapat dari teman-temannya. Ia bersyukur, bisa menceritakan kegelisahannya, mendengar pendapat dari mereka, juga mendapat dukungan moral yang sangat penting.

Selama ini, ia banyak menghabiskan waktunya untuk berfikir sendirian, tak ayal rasa takut itu datang dan mulai membungkamnya. Setelah apa yang di laluinya, sulit untuk Gavi bisa bercerita tentang dirinya sendiri kepada orang lain. Perasaan tertikam selalu menghantuinya, seolah ia telah melakukan kesalahan yang melucuti dirinya dan semua hal itu kembali merenggut kepercayaan dirinya.

Semua perasaan itu terus menenggelamkannya dan mampu menghilangkan memori baik yang pernah ia rasakan. Seolah, tidak ada kebahagiaan yang pernah menyapa hidupnya.

Semuanya terasa seperti obat yang di balut dengan warna yang cantik. Terlihat begitu manis amun memiliki rasa pahit yag tidak pernah bisa hilang dari indera perasanya.

Hal itu sangat membekas bagi dirinya sendiri, hanya Gavi yang bisa merasakannya. Di tengah semua itu ia berusaha melanjutkan hidupnya, meski sempat kehilangan arah ia berusaha bangkit. Bersikap seperti tidak ada hal yang terjadi, merampungkan satu persatu dari rencana yang sudah ia buat dan berusaha menyelesaikannya hingga akhir.

###

Percakapan dengan ibunya, membekas di hati Zoya. Ia merasa bersalah karena harus menyembunyikan hal besar ini darinya. Dalam pikirannya ia tidak berhenti mempertanyakan apakah yang di lakukannya sudah benar? atau ini akan membawa kesalahan yang lebih besar lagi.

Tapi, ini juga merupakan permintaan dari Gavi. Bagaimana ia bisa mengingkari janjinya dengan anak itu. Setelah bersekongkol dengan ayahnya dan Gilang, haruskah Zoya membocorkan rahasianya kepada Bunda Jasmine.

Lihat selengkapnya