“Papa udah kosongin jadwal buat acara kita nanti kan?" tanya Gilang memastikan.
“Udah dong, nanti oma juga bakal datang!” jawab Juna, memastikan ia akan hadir di acara penting kedua anaknya.
Di tngah kesibukan yang ia miliki Juna tidak pernah melewatkan acara-acara penting kedua anaknya. Saat mereka ulang tahun, dia akan mengambil libur di kantor dan mengajak keduanya bepergian, ia juga hadir saat ada acara di sekolah. Entah untuk penerimaan rapor atau pendaftaran lainnya. Sebisa mungkin, ia tidak akan melewatkannya.
“Waahhh ...,"
"Papa harus lihat sih kemampuan Gilang acting. Meskipun ini pertama kalinya, dia lebih jago dari Gavi!” ujar Gavi memuji kemampuan Gilang di depan Papanya.
“Tapi, study kamu aman kan Lang?” tanya Juna, mengkhawatirkan hal lain. Kini keduanya sudah duduk di bangku akhir sma. Seharusnya Gilang bisa focus untuk perkuliahan nanti, bukan mengikuti kegiatan seperti ini. Pikir juna, merasa tidak puas dengan pilihan yang Gilang ambil.
Dahi Gavi mengernyit, mendengar reaksi dari papanya.
“Tapi nanti oma suka ga pah? marah ga yah dia tiba-tiba Gilang ada di panggung gitu?” ujar Gilang mengatakan kekhawatirannya.
Pandangan Gavi menoleh ke arah Gilang, mengetahui kekhawatiran yang di milikinya. Ia pikir selama ini Gilang akan bisa nyaman dengan pilihan yang sudah di ambbilnya. Namun, melihat ia mengkhawatirkan perasaan orang-orang di sekitarnya. Membuat Gavi ragu dan berfikir. "Jika dulu ia terlihat sangat yakin untuk begabung, kenapa sekarang ia terlihat begitu takut?"
“Eyy ayolah Lang, kita ngga perlu peduliin itu!” potong Gavi
“Yang penting kan kebahagiaan dan pilihan lo? usia kita masih muda kali, jadi wajar aja kalau tiba-tiba mau nyoba hal lain,” ujar Gavi mencoba menenangkannya.
“Kalau ngga nyoba sekarang, kapan lagi lo bisa lakuin ini?” tanya Gavi. “ Ya, kan pa?” terusnya meminta persetujuan dari juna.
Juna mengangguk, mengiyakan. ia terkejut dengan pikiran berani yang Gavi ucapkan.
“Oh iya, hari ini ayah ada acara di perusahaan, kalian ikut ya? yang lain juga bawa anak-anak. Sekalian kenalan aja, biar temennya tambah banyak!” uajr juna meminta keduanya untuk bergabung.
Gavi dan Gilang saling bertukar pandangan, dari sorot matanya Gilang meminta untuk Gavi mengiyakan permintaan ayahnya.
“Kamu ngga ada acara kan Gav?” tanya Juna, memastikan.
Gavi terdiam, pikiran dan hatinya kembali bergejolak. Ia enggan pergi namun di saat bersamaan sulit untuk ia menolak ajakan itu. Sudut bibir gilang terus tersenyum, bersikap seolah Gavi sudah mengiyakan jawaban untuk ikut.
“Aku ikut, tapi aku ajak Zoya juga ya pa?” tanya Gavi, meminta ijin untuk membawa orang lain.
Juna terdiam, ini acara peusahaannya dan mengapa Gavi ingin membawa Zoya.
“Kenapa, ngga boleh?” tanya Gavi, melihat reaksi Juna yang tidak menjawab.