Dearly

MiiraR
Chapter #55

Hereh

Langkah Gilang dan Juna berjalan ringan memasuki sasana olahraga, baju yang di kenakannya berhasil menunjukan tubuh atletisnya, untuk melengkapi penampilannya tak lupa ia mengenakan kacamata berwarna hitam. Di belakang keduanya terlihat beberapa asisten Juna yang mendampingi dengan lengan penuh membawa tas olahraga yang akan di gunakan nanti.

“Mereka belum datang pa?” tanya Gilang, melihat tempat yang masih di siapkan oleh staff.

“Sepertinya begitu, kita tunggu di lounge saja!” ujar Juna, kemudian membawa Gilang ke tempat yang akan di gunakan untuk beristirahat.

Tanpa banyak pertanyaan, Gilang menuruti perintah ayahnya.

Sambil menunggu, ia terlihat sibuk memainkan ponselnya. Sementara di seberangnya, Juna terlihat sibuk berbicara dengan sekertarisnya. Entah apa yang di bicarakan, tapi sudah jelas jika itu tidak jauh dari obrolan pekerjaan.

##

“Aisssh,” ujar Zoya berdecak kesal.

“Lo, belum pergi?” tanya Zoya, melihat Gavi yang masih berada di dalam rumahnya. Ia terlihat duduk di depan meja bar dapur, dengan pandangan yang tertuju ke arah tablet miliknya.

Mendengar suara langkah yang menuruni anak tangga, Gavi menoleh pandangannya mengikuti pergerakan Zoya yang kini terlihat sibuk mengeluarkan beberapa barang dari dalam kulkasnya.

“Bentar lagi,” balas Gavi.

“Kenapa, nunggu gue?” tanya Zoya. “Kan gue bilang, gue lagi mager. Ga mau pergi kemana-mana!” terus Zoya.

“Iya, gue ngerti. Gue masih disini karena ada yang harus di kerjain aja. Acaranya juga belum mulai, jadi santai aja!” balas Gavi, mengatakan pendapatnya.

“Terserah lo deh,” timpal Zoya, lalu membiakan Gavi dengan urusannya.

srrrt

Zoya membuka daging steak dari plastic. Lengannya bergerak cekatan, mengeringkan daging dengan beberapa helai tisu.

Puk-puk

Ia menekan bagian dalamnya, namun pandangannya tak bisa beralih dari Gavi yang kini jauh terlihat lebih tenang.

Tiga detik kemudian, ia menggelengkan kepalanya menghalau segala prasangka yang mulai beterbangan di kepalanya.

Selanjutnya, ia menaburkan lada dan garam di atas daging, untuk bagian terakhir ia melumurinya dengan olive oil.

Namun, ia kembali melihat ke arah gavi, berharap anak itu berbicara kepadanya.

Seolah mendengarnya, Gavi melihat ke arah Zoya menyadari tatapan yang sering ia berikan kepadanya.

“Kenapa?” tanya Gavi penasaran, kenapa Zoya terus melihat ke arahnya.

“Mau gue bantu?” tambah Gavi, menawarkan bantuan.

“Ngga usah, bisa sendiri gue!” tukas Zoya, menolaknya.

Gavi mengangguk, mengerti.

Lihat selengkapnya