Langkah kaki Gavi bergerak maju, dengan Zoya di sampingnya ia merasa lebih percaya diri lagi. Senyum lebar yang terus terukir di wajahnya, ia menyapa dan memperkenalkan Zoya kepada kerabat-kerabat ayahnya. Lalu, langkahnya terus membawa ia menuju meja yang tengah Gilang tempati.
“Haiii,Gue Gavi ...," sapa Gavi, sembari memperkenalkan dirinya kepada teman-teman yang terlibat seumuran dengannya.
"Ini Zoya,” terusnya, tak lupa ia juga memperkenalkan Zoya kepada mereka.
“Bunga, ” ucap Bunga, memperkenalkan diri. Sama seperti namanya, paras yang ia miliki begitu melekat dengan kecantikan orang-orang Indonesia. Senyumnya yang ramah, suara yang ia miliki juga terdengar begitu lembut dan halus.
“Chelsea,” ucap Chelsea. Berbeda dengan bunga, ia anak yang memliliki keturunan dari Indonesia belanda. Ia memiliki kulit putih dengan rambut blonde, penampilan itu begitu terlihat cocok dengannya.
“Gabriel,” ia merupakan kakak dari Chelsea. Seperti Gilang dan Gavi, ia adalah saudara kembarnya. Keduanya memiliki potongan wajah yang hampir serupa.
“Chiko ...,” sama seperi mereka, Chiko juga terlahir dari keluarga terpandang. Ia bersekolah, di tempat internasional. Cara bicaranya terdengar begitu lugas dan tegas, tubuhnya memliki proporsi yang cukup besar di banding anak se usianya.
“Rachel,” sama seperti Gilang, ia terlihat lebih gugup di banding teman-temannya. Beberapa kali ia mengalihkan pandangannya menolak kontak langsung bersama orang lain. Namun, hal itu justru adalah salah satu daya tariknya, semakin kecil ia berinteraksi dengan orang. Semakin besar keingin tahuan orang lain terhadapnya.
Dari satu percakapan Gavi, biasa menganalisis teman-teman barunya.
Entah apa yang di atur oleh orang tua mereka, sehingga pertemuan ini bisa terjadi. Pikirnya
Gavi dan Zoya ikut bergabung, duduk bersebelahan. Tanpa merasa malu, ia memperlihatkan kedekatannya, seperti saling memperhatikan satu sama lain, melempar candaan dan melakukan hal lainnya.
“Kalian udah lama datang?” tanya Gavi, penasaran.
Ke lima nya mengangguk secara bersamaan.
"Sepertinya Gilang yang lebih duluan datang,” ujar Chelsea menambahkan.
“Benar, Lang?” tanya Gavi.
Gilang mengangguk, mengiyakan. Ia datang tiga jam sebelumnya, melihat lapangan masih di bersihkan, ayahnya yang sibuk meeting dan selama itu ia menunggu hingga semua orang berkumpul.
“Apakah permainannya sudah di mulai?” ujar Zoya ikut bertanya.
“Mereka sudah main, babak ketiga” ujar Chiko. menunjuk ke arah juna dan papanya yang se tim yang berlawanan dengan ayah Rachel dan Bunga.
“Abis itu kita berempat main, di lapangan yang sana,” jelas Chiko, lengannya menunjuk ke arah Chelsea, Gabriel, dan Rachel. Lalu memperlihatkan lapangan kosong di sebelahnya.
Juna sengaja menyewa dua lapangan tenis dan satu lounge.