Dearly

MiiraR
Chapter #57

Pain

"Hasil pertandingan kalian gimana?" tanya Zoya penasaran dengan pertandingan yang di jalani grup lainnya.

“Gabriel dan Rachel menang, setelah ini mereka akan bertanding melawan Gilang dan Bunga untuk pertandingan final nanti,” jelas Chiko, memberi tahu semuanya.

Zoya mengangguk mengiyakan, setelah pemaparan dari Chiko. Gilang dan Bunga segera bersiap untuk menyelesaikan pertandingan finalnya.

“Fighting ...," ujar Gilang, menyemangati pasangannya.

“Apapun hasilnya, ayo kita buat permainan ini menyenangkan,” lanjutnya, menambahi.

“Ayo bertanding, tanpa meninggalkan penyesalan apapun dan tanpa cedera!” balas Bunga, siap mengerahkan segala kemampuan yang di milikinya.

Dengan siapapun ia di pasangkan, Gilang memiliki pesona yang bisa membuat orang di dekatnya merasa nyaman. Dengan hal itu mereka bisa bergerak luwes dan saling memberikan kepercayaan satu sama lain.

Dua puluh menit kemudian.

Gavi kembali memasuki lounge, ia datang dengan kedua lengan yang di penuhi dengan berbagai macam minuman isotonic.

Tubuhnya kembali duduk di tempat nyamannya, di sebelah Zoya.

"Mereka bertanding lagi?" tanya Gavi, penglihatannya tertuju ke pertandingan yang tengah berlangsung.

"Pertandingan final, kita lihat lebih dekat, yuk? "tanya Zoya, mengajak Gavi untuk pergi ke bagian lebih depan.

“Ayo!” jawab Gavi, antusias. Menyembunyikan rasa sakit yang kini masih menyerangnya, bahkan setelah minum pereda sakit di toilet tadi. Hal itu kembali menyerangnya, dan kini terasa lebih parah.

Namun, ia tidak ingin menunjukkannya. Ia tidak akan membiarkan orang lain mengetahui dan menyadarinya.

“Nanti saja, sekarang lo makan dulu. Semangkanya enak, manis banget!” ujar Zoya menyerahkan satu piring semangka kepada Gavi.

Gavi menerimanya, ia mengambil satu potong buah semangka, satu gigitan yang ia buat bisa memberinya sensasi menyegarkan, teksturnya yang renyah lembut dan berair membuat ia terus ingin memakannya.

Di sampingnya terlihat Zoya yang tengah mengompres bagian lengannya yang tersa pegal. Merawatnya, memperkecil kemungkinan cedera yang akan di alaminya di kemudian hari.

"Pertandingannya menyenangkan bukan?” tanya Juna, muncul di sisi kanan Gavi.

Gavi mengangguk, mengiyakan.

“Mari lakukan satu pertandingan tambahan dengan Papa ...,” ujar Juna menawarkan.

Gavi terdiam, tidak yakin dengan kondisi yang tengah di rasakannya sekarang.

"Kamu satu tim dengan Chelsea, melawan papa dan tante Margaret!” ujar Juna menjelaskan.

“Sebentar saja kita lakukan, hanya satu pertandingan,” ujar Juna terus memintanya.

Lihat selengkapnya