Dearly

MiiraR
Chapter #58

How

Dua puluh menit berlalu, ia memutuskan untuk turun dari mobil dan kembali ke dalam gedung. Zoya memeriksa toilet. Namun, anak itu tidak terlihat berada di sana.

"Kemana dia? ngga mungkin ninggalin gue sendirian kan?" tanya Zoya di dalam hatinya.

Langkahnya bergerak maju, di terangi lampu yang ia nyalakan dari ponsel. Ia terus berkeliaran dari satu tempat ke tempat lainnya meninggalkan rasa takut yang ia miliki.

“Mau kemana?” tanya Gavi, muncul di depannya.

"Aisshh ...,” Zoya kembali berdecak kesal, setengah jantung terasa copot dan kakinya mulai lemas membuat ia kehilangan keseimbangan.

“Kenapaa?” tanya Gavi, lengannya bergerak membantu Zoya untuk bangkit.

“Lagi, nyari barang gue yang hilang ...,” balas Zoya, lengannya bergerak melepas rangkulan yang Gavi berikan.

“Apa? gue bantu cariin?” ujar Gavi menawarkan, dalam hatinya ia bernafas lega berhasil lolos dari kecurigaan yang Zoya rasakan.

Apa yang akan dia lakukan, jika melihatnya dalam keadaan seperti tadi? Pikir Gavi.

Mata Zoya menatap lebih lama, memperhatikan tubuh Gavi dari ujung atas hingga bawah.

Memeriksa seberapa baik keadaannya, ia tetap tidak bisa membohonginya, tatapan matanya yang bergetar, lengannya yang gelisah juga ucapan yang ia keluarkan terlihat ragu dan tidak jelas.

“Ga usah, udah ketemu!” balas Zoya. “Ayo mereka udah nunggu,” timpalnya.

Gavi mengangguk mengiyakan, ia masih menyembunyikan rasa sakitnya. Dengan lampu samar-samar yang keluar dari ponsel Zoya bisa memberinya petunjuk ke arah mana ia harus berjalan.

“Gue aja yang nyetir” ucap Zoya, mengambil kendali dan menyuruh Gavi untuk beritirahat.

Tawaran yang di berikannya, menguntungkan untuk Gavi. Tanpa memintanya, ia sudah tahu apa yang di butuhkan Gavi.

Zoya duduk di kemudi setir, menyalakan mesin dan mulai menghidupkan ac membuat ruangan agar lebih adem.

Di sampingnya Gavi, bergerak cepat melingkarkan seatbelt di tubuhnya.

"Lo capek? Tidur aja, nanti gue bangunin, kalau kita udah sampe” ucap Zoya.

Tak ada balasan yang Ia berikan, selain dari anggukan kepalanya.

Lengannya bergerak mengatur kursi menjadi datar agar tubuhnya bisa terlentang. Bagian wajahnya, ia tutupi dengan jaket, menghindari jika ia membuat ekspresi aneh saat menahan rasa sakitnya.

Ia berharap dengan ini, rasa sakitnya bisa mereda dan bisa kembali bergabung di acara yang di buat ayahnya.

Lihat selengkapnya