Srrt
Lengan Gavi bergerak, melepas jaket yang sebelumnya menutup wajahnya.
“Aah..., ” ujar nya mengerang kecil.
Suara itu membangunkan Zoya dari lamunannya. Bola matanya bergerak mengikuti ergerakn tubuh Gavi yang kini kembali mengatur kursinya seperti semula.
Tak seperti sebelumnya, wajahnya terlihat lebih cerah, bola matanya kembali berbinar melihat ke arahnya.
“Kenapa kita disini? tidur gue kelamaan ya?” tanya Gavi, menyadari mobilnya sudah berada di halaman rumah Zoya.
Kemudian, ia memeriksa jam yang berada di tangannya. Memastikan ia masih memiliki waktu untuk menemui ayahnya.
“Lo kecapekan Zoy, jadi langsung pulang gini?” tanya Gavi, mengkhawatirkan keadaan kakya perempuannya.
Zoya mengangguk mengiyakan, pandangannya beralih menatap ke arah luar. menyembunyikan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ada perasaan lega yang menyelimuti hatinya, melihat keadaan nya yang kian membaik.
“Makasih udah nemenin gue hari ini,” ujar Gavi, megatakan rasa terima kasihnya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Zoya tidak ikut bersamanya. Dan ia tidak ingin Juna melihat kekurangannya dan menjadikan ini sebagai alasan untuk terus membohonginya.
“Bye ...,” ujar Gavi, berpamitan.
“Mau kemana lo?” tanya Zoya menaikkan nada suaranya.
“Gue harus balik kesana Zoy.”
“Apa itu penting sekarang?” tanya Zoya lagi tidak habis pikir dengan rencana yang Gavi ucapkan.
“Lo tahu sendiri kan, Papa pasti nunggu gue. Gue cuman ngga mau ngecewain dia, meskipun telat gue harus tetap ada di sana,” ujar Gavi, mengatakan kekhawtiran yang ia rasakan pada ayahnya.
Zoya menghela nafasnya, ia kehilangan kata untuk menanggapi ucapan anak itu. Tidak bisakah ia memperhatikan dirinya sekarang? saat ini, yang perlu ia cemaskan adalah dirinya sendiri. Di banding dengan menemui papanya lebih penting untuk ia segera pergi menuju dokter agar tahu apa yang harus di lakukanya.
Bukannya seperti ini, bertindak seperti tidak pernah ada yang terjadi.
"Lo ngga perlu khawatirin itu, gue udah telpon mereka."
" Gue bilang gue ada urusan dan lo ikut buat bantu gue. Mereka pasti ngerti, jadi stop khawtirin tentang apapun!” balas Zoya, ia mencoba bersikap lebih lembut agar tidak menyakiti hatinya.
“Oke, kalau gitu gue langsung pulang aja, ” jawab Gavi, berniat untuk kembali ke rumahnya.
Jawaban itu kembali, memancing amarah Zoya.
Setelah apa yang terjadi? mungkinkah ia bisa pulang sendirian? pikir Zoya, merasa tidak yakin.
“Malam ini lo tidur disini aja, temenin gue!” tukas Zoya, lengannya bergerak membuka pintu mobil. Dengan cepat, ia berjalan keluar enggan menerima bantahan yang akan Gavi berikan.
“Aaah ...,” ujar Gavi mendesah, tidak suka dengan ide yang di berikan Zoya.