“Saat pagelaran nanti, datanglah. Om akan memberikan undangan resmi nya kepada kalian,” ujar Juna, memberikan sebuah janjinya.
“Dengan senang hati, om. Kami akan datang!” balas Chelsea mengiyakan janji yang Juna berikan untuknya.
Setelah melakukan perbincangan itu, mereka mulai bangkit berjalan keluar dari restaurant. Lalu, mengucap perpisahan sekali lagi di depan lobi dan masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Juna menghela nafas kasarnya.
“Papa benar-benar tidak mengerti dengan sikap Gavi" ucapnya mulai menggerutu dan melampiaskan nya kepada Gilang.
"Apa itu sangat penting untuknya? Sehingga ia bisa mempermalukan Papa seperti tadi?” ucapnya bertanya kepada Gilang.
“Karena Gavi sangat menyukainya, pasti itu sangat penting untuknya,” balas Gilang.
“Lagi pula ini pagelaran terakhir yang akan ia lakukan, jadi ia akan mengerahkan segala kemampuannya, " ujar Gilang berbicara seolah ia mengerti sudut pandang yang Gavi lihat.
“Tetap saja, tidak seharusnya dia pergi begitu saja!” ucap Juna, ia harap Gavi bisa bersikap lebih baik. Hadir di jamuan makan malam sebentar lalu berpamitan. Bukan, langsung menghilang begitu saja.
"Oh iya bagaimana dengan persiapan kuliah kamu, sudah selesai? ada yang perlu papa bantu?” tanya Juna, obrolannya beralih mengenai masa depan yang ia rencanakan untuk Gilang.
“Ngga usah, udah selesai kok pah. Gilang cuman tinggal ikut ujian aja,” ujar Gilang, meminta Juna untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya.
##
Setelah membersihkan tubuhnya dari debu, keringat dan bau matahari. Zoya bergegas menuju dapur, memasak masakan sederhana untuk mengisi perutnya.
“Mbak ..., ada tamu di luar,” ujar seorang pembantu rumah tangga di rumahnya.
“Siapa bi?” tanya Zoya penasaran.
Bibi menggeleng, tidak tahu siapa yang datang karena baru pertama kali melihatnya.
Lengan Zoya bergerak mematikan kompor, tubuhnya beranjak menuju pintu.
Bibirnya tersenyum melihat kehadiran dokter Fita di depan rumahnya.
“Maaf ya dok, aku harus panggil dokter kesini!” ujar Zoya meminta maaf.
“Gapapa, ini kan tugasku. Bagaimana keadaannya sudah membaik?” ujar Fita, matanya berkelliaran mencari pasiennya.
Sudah lama ia tidak berhubungan dengannya, mendengar panggilan yang Zoya berikan. Membuat tubuhnya merespon dengan cepat dan mengunjunginya.
“Sepertinya sudah dok,” balas Zoya, mengatakan analisis yang bisa di lihatnya saja.
“Bagaimana kalau, kita langsung ke kamarnya saja!” ajak Zoya.
Fita mengangguk, mengiyakan. Langkahnya bergerak mengikuti tubuh Zoya yang berjalan memimpin.
Tuk tuk
Zoya mengetuk pintu, memberi aba-aba sebelum masuk.
"Gav, ayo keburu dingin makanannya!” ujar Zoya memberi alasan lain, agar Gavi mau keluar dari kamarnya.
Hening, tidak ada jawaban.