Sambungan telepon masih terhubung.
“Oh iya, kamu ga pergi kemana-mana hari ini?” tanya Zoya.
“Hari ini aku di rumah aja, mau belajar buat persiapan ujian,”
“Oh ya? rajinnya!!”
“Semangat ya Langggg!” terus Zoya, menyemangatinya.
“Okee, makasih kaa. Byee, see u!” balas Gilang mengakhiri panggilannya dengan manis.
Di sisi lain, Zoya menghela nafasnya merasa bersalah karena harus membohongi Gilang. Namun, ini satu-satunya jalan yang bisa ia temput.
##
Satu jam berikutnya
Pintu kamar terbuka.
Gavi sudah terbangun, menoleh memperhatikan siapa yang akan masuk ke dalam kamarnya.
Seperkian detik kemudian, bibirnya tersenyum. Menyapa Fita.
Langkah Fita berjalan ringan menuju ke arah Gavi.
“Hai, bagaimana sekarang?” tanya Fita, dengan lengan yang terlihat memasang stetoskop di telinganya dan langsung memeriksa kan area vitalnya.
“Sudah baik, dok!” balasnya, dengan senyum yang terus menungging. Senang karena ia bisa melewati malam yang begitu menakutkan untuknya.
Selanjutnya Fita bergerak melepas jarum infus di lengan Gavi dan menutupi bekasnya dengan plester. Tak lama kemudian, ia memasukkan sampah medis ke dalam plastic.
Tiga detik selanjutnya, ia kembali duduk di kursi yang memiliki jarak tiga langkah dari ranjang yang tengah Gavi tempati.
“Soal yang terjadi kemarin, apa kamu mengingatnya?” tanya Fita, penasaran agar ia bisa mengetahui hal apa yang harus ia ambil sebagai tindakan.
Gavi mencoba mengatur nafasnya, mengumpulkan keberanian unuk bercerita apa yang terjadi kemarin.
“Entah, hanya saja rasanya begitu sakit. Bahkan, obat yang dokter resepkan tidak terlalu membantu. Buat aku benar-benar kewalahan” jawab Gavi, mengingat bagaimana rasa sakit itu muncul dan hilang tiba-tiba.
“Apakah hal ini pernah terjadi sebelumnya?” tanya Fita, lagi.
Gavi mengangguk, mengiyakan. setidaknya sekali dalam seminggu hal ini terjadi kepadanya. Namun, pada saat itu ia hanya perlu meminum obat dan membiarkan rasa itu mereda dengan sendirinya.
Namun, hari kemarin terasa lebih berbeda. Rasa sakit itu muncul, obat yang di minumnya bisa membuat ia bertahan sedikit dan pada akhirnya ia tumbang juga menandakan jika apa yang di rasakannya berada di level yang berbeda.
“Apa kondisi ini semakin memburuk?” tanya Gavi, penasaran dengan apa yang akan terjadi kepadanya.