Permintaan yang Juna berikan, mengisyaratkan jika ia lebih mengkhawatirkan perasaan orang lain dan juga reputasi miliknya.
Sudut bibir Gavi terangkat, paham dengan apa yang di inginkan ayahnya.
“Baik, Gavi akan mengurusnya. Setelah undangan jadi, Gavi akan segera menghubungi keduanya!” jawab Gavi dengan tegas.
Lengan Juna bergerak menepuk bagian belakang kepala Gavi, puas dengan tanggapan cepat yang anak itu berikan.
“Sudah selesaikan? jadi, Gavi akan pergi ke atas untuk istirahat!” ujar Gavi berpamitan, meminta keduanya agar tidak mengganggunya lagi.
“Lalu, bagaimana dengan makan malamnya?” tanya Gilang.
"Kita makan berdua saja."
“Biarkan saja dia beristirahat, papa yakin sebelum pulang dia pasti sudah makan di rumah Zoya. Jadi, kita tidak perlu mengkhawatirkannya” balas Juna.
Gilang menghela nafasnya, kesal dengan jawaban yang di berikan Juna. Ia juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini suasana hatinya bisa berubah dengan cepat.
Apa pentingnya acara kemarin? Kenapa dia tidak menanyakan kondisi Gavi saat ia datang? Namun, malah menamparnya dan memberikan tuduhan yang tidak-tidak.
Bukankah dia yang paling menyayanginya ia selalu bersikap tegas dan tidak membiarkan orang lain melukai hati Gavi. Namun, sekarang justru dirinya senidri yang dengan sengaja melukai anak itu.
**
Setelah mengantar Gavi ke rumahnya, Zoya memutuskan untuk kembali pulang dengan menggunakan bis.
Helaan nafas erat, keluar dari mulutnya. Mengingat apa yang terjadi kemarin membuatnya benar-benar kewalahan. Ia tidak menyangka jika rasa sakit yang di rasakannya akan separah itu dan membuatnya kehilangan kesadaran.
Entah berapa kali ia sudah mengalaminya, Apakah hal ini juga yang mendorong Gavi untuk menyerah dan mundur dari mimpi-mimpinya?
Membayangkan itu menjadi salah satu alasannya, menimbulkan rasa pilu di hati Zoya. Bagaimana bisa, seorang anak yang memiliki begitu banyak keinginan di hidupnya, menyerah karena takut dengan keadaan yang mungkin akan menikamnya kapan saja.
Di satu sisi ia juga ingin terus berada di dekatnya, agar tidak melewatkan hal apapun yang mengecewakannya.
Namun, Zoya juga tidak memiliki alasan lain untuk menahan Gavi agar terus berada di sisinya.
Semua perasaan ini menimbulkan kebingungan yang terus mencuat dan membuat kepalanya terasa sangat pusing.
Tittt
Bis berhenti, tubuh Zoya bergerak keluar dari bus. Langkahnya berjalan gusar, melangkah di trotoar yang menuju komplek rumahnya.
Tap
Langkahnya terhenti, melihat sebuah mobil yang tidak asing untuknya.
Setelah melihat orang yang di tunggunya datang, Rio berjalan keluar dari dalam mobilnya. Langkahnya berjalan, menghampiri Zoya meminta agar ia mau bicara dengannya.
Zoya kembali mengatur nafasnya, merasa kurang senang dengan kehadiran Rio yang begitu tiba-tiba.