“Guysss, kenalin ini Zoya. Kak Zoya!” ujar Gavi memperkenalkan Zoya kepada teman-temannya.
“Udah tahu kali, kemarin kita kan juga ikut nonton pertandingan basketnya,” ujar Dannia.
Zoya mengangguk, mengiyakan. Mengingat kembali wajah-wajah yang sudah mendukungnya.
"Hai kaaa ...,” sapa semua teman-teman Gavi menyambut kehadirannya.
Sementara di bawah terlihat para pemain sedang melakukan adegan demi adegan.
“Jadi, sebenarnya ada yang mau gue bilang ke kalian.”
“Dan kedatangan Zoya kesini, bukan cuman buat main aja. Tapi, dia bakal bantu kita sampai pertunjukkan nanti?” ujar Gavi, mengatakan tujuannya.
Zoya mengepalkan kedua tangannya, menyembunyikan rasa takut akan di tolak oleh teman-temannya.
“Maksudnya?” tanya Dannia, tidak mengerti dengan ucapan yang Gavi lontarkan.
“Ren lo belum bilang ke mereka?” tanya Gavi.
Renata mengangguk, mengiyakan. Belum ada waktu yang tepat untuknya menyampaikan permintaan Gavi kepada teman-temannya.
“Oke, di tengah persiapan pagelaran ini. Gue juga lagi persiapan buat lanjutin studi!” balas Gavi.
“Dan, rasanya gue ngga bisa buat focus sama keduanya. Waktunya telalu singkat dan mepet banget!”
“Jadi, gue minta Zoya. Buat datang dan bantu kita ...,” ucap Gavi meneruskan ucapannya.
“Dengan kehadirannya, mungkin bisa ngegantiin posisi gue."
"Pagelaran ini penting, tapi gue juga punya tujuan lain dan itu juga sama pentingnya buat gue. Gue ngga mau kehilangan kesempatan lagi!"
"Gue harap kalian bisa ngerti,” terus Gavi menyelesaikan ucapannya.
Untuk beberapa saat suaana menjadi hening, tidak bisa membuat Zoya menghindar dari rasa canggung yang di milikinya.
“Iya, kita ngerti!”
“Tapi, bukankah sebaiknya lo bicara dulu ke kita?” tanya Abuy.
Semua orang yang sependapat dengannya, mengangguk setuju.
Di sisi lain Revi dan Renata hanya bisa terdiam, keduanya menjadi orang pertama yang Gavi beritahu mengenai rencananya. Ia juga menitip pesan agar keduanya mau membantu ia meyakinkan teman-temannya. Namun, kesibukan-kesibukan ini membuat keduanya sulit berkomunikasi dengan teman-teman lain.
“Dan yaa, sekarang gue lagi bicara sama kalian kan?” balas Gavi, balik mengajukan pertanyaan.
Lengan Zoya bergerak memegang ujung baju Gavi, memintanya agar tidak terlalu terbawa suasana.
Gavi berusaha mengabaikannya, jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin memperdebatkan ini di depannya dan membuat Zoya tidak nyaman. Menurutnya, tidak seharusnya mereka meragukan kemampuan Zoya. Justru, mereka harus bersyukur dan senang karena di tengah kesibukannya ia menerima permintaannya.
“Gue tahu mungkin ini terlalu tiba-tiba buat kalian. Pada awalnya, gue pikir bisa lakuin semua sendiri, tapi gue juga manusia, kemampuan gue terbatas.
"Dn gapapa kan, buat kita minta bantuan? itu bukan kesalahan kan?” timpal Gavi, menyelesaikan ucapannya berusaha membuat mereka mengerti.