Keduanya sampai di restoran yang Fita sebutkan tadi. Meskipun tempat ini cukup populer, tapi ini pertama kalinya untuk gavi bisa datang.
Fita memilih sebuah ruangan khusus yang tertutup, meminimalisir obrolannya terdengar oleh orang lain.
Jadi benar ada yang ingin Fita sampaikan kepadanya? Namun, seberapa penting kah itu? Mungkinkah ini mengenai kondisinya? Dengan banyak usaha yang Fita kerahkah, menandakan jika akan ada berita kurang baik yang harus di terimanya. Gumam Gavi dalam hatinya.
Seorang pelayan datang, untuk menghemat waktu ia menyamarkan pesanannya dengan Fita.
“Zoya yang memberitahu tempat sekolahku?” tanya Gavi, ia tidak dapat menahannya lagi.
“Ngga, dia tidak tahu aku datang,” jawab Fita.
“Benar, jangan biarkan dia tahu tentang ini!” balas Gavi. “Lalu bagaimana, dokter bisa tahu?” lanjutnya, mengajukan pertanyaan. Saat mereka hanya berdua, Gavi kembali memanggilnya dengan sebutan professional dokter.
“Kamu itu cukup populer Gav, lewat postingan media social kamu aja. Aku udah bisa tahu kamu sekolah dimana, keluargamu dan hal lainnya, ” balas Fita, menjelaskannya.
Gavi mengangguk setuju, di jaman yang modern ini pasti mudah menemukan informasi standar ini. Banyak anak se usianya, yang melakukan hal yang sama. Di etalase social media, mereka berlomba-lomba menunjukkan apa yang di gemari dan tengah di lakukan.
Dan hal itu, bisa di akses siapapun dengan mudah.
"Tapi, kenapa Zoya tidak boleh mengetahui ini?” tanya Fita penasaran dengan alasan Gavi ingin menyembunyikan kedatangannya.
“Karena sudah terlalu banyak hal yang Gavi minta darinya. Dan Gavi ngga mau hal ini semakin membebaninya,” balas Gavi, berkata jujur.
Mengetahui hal itu, membuat Fita kesulitan untuk melanjutkan percakapan.
Apakah Gavi masih menganggap dirinya beban bagi orang lain? pikirnya dalam hati.
Tring
Sebuah pesan masuk ke ponsel Gavi, memecah keheningan yang terjadi di antara keduanya.
Dengan cepat Gavi, memeriksa ponselnya.
Namun, satu detik kemudian terdengar helaan nafas kasar dari mulutnya.
“Kamu dimana? aku, udah selesai...,” isi pesan dari Gista.
Gavi memejamkan matanya, berfikir alasan apa yang harus ia berikan kepadanya.
Jujur saja, ia tidak mengerti dengan waktu yang tidak berada di pihaknya. Tidak mungkin, ia meninggalkan Fita begitu saja dan mustahil juga untuk Gavi meminta Gista menunggunya, sementara ia tidak tahu pembicaraannya akan selesai kapan.
Setiap mencoba untuk berbicara dengannya, pasti ada hal yang mengganggu dan membuat rencananya dengan Gista berantakan. Bukankah, ini pertanda jika semesta tidak mendukung hubungannya.
“Maaf, aku ada urusan mendadak. Bagaimana, jika kita bicara besok saja...,” balas Gavi, meminta maaf dan mengajukan hari lain.
Selesai mengirim pesannya, Gavi kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.