“Berapa biayanya? Gavi akan segera membayarnya,” ucap Gavi, setuju melakukan pemeriksaan.
“Tapi, bisakah dokter memberi waktu sebentar lagi?”
“Hanya sampai projek ini selesai,” ujar Gavi, meminta kelonggaran.
Fita menghela nafasnya, ia tidak suka dengan cara Gavi keluar dari topic pembicaraaan yang di angkatnya. Setiap membahas tentang keluarganya, ia selalu mengalihkan perhatiannya, tatapan matanya yang menyala juga terasa begitu intens. Memberi batasan kuat, yang seolah tidak boleh Fita sentuh.
Namun, sebagai dokter. Fita wajib mengetahui siapa yang akan bertanggung jawab untuk anak ini. Entah secara finansial atau lainnya.
“Lalu, siapa yang akan menemani kamu?” tanya Fita.
“Jika, dokter masih mempersalahkan tentang wali. Tenang saja, Gavi akan segera membawanya.”
“Siapa lagi yang akan kamu bawa? Jangan bilang, kamu akan menyewa orang lagi sama seperti bagaimana kali pertama kamu datang!” balas Fita, mencoba menghentikan Gavi untuk berbuat sesukanya.
"Kenapa, apa itu hal yang tidak boleh di lakukan?” ucap Gavi, balik bertanya.
“Tapi, bukankah seorang caregiver sudah banyak di gunakan sekarang?” balas Gavi menimpaninya dengan fakta.
Fita menelan ludahnya, ia tidak mengerti kenapa mudah sekali untuk Gavi menjawab setiap pertanyaannya.
“Ya betul, tapi mereka menggunakannya hanya saat mendesak saja!” ucap Fita memberi alasan.
“Ya dan kondisi yang sedang gavi alami sama,” jawab Gavi.
“Gavi tidak tahu dimana ibu berada, sejak kecil kami tidak pernah bertemu.”
“Dan soal ayah, dia seorang pengusaha. ”
“Menurut dokter apakah dia akan mempunyai waktu untuk Gavi?”
“Tidak dok, seandainya dia tahu pun. Dia pasti akan menyuruh orang lain untuk menemani Gavi.”
“Dengan dia tahu atau tidak tentang hal ini pun, tidak akan mengubah apapun!” ujar Gavi, meminta Fita untuk bisa terus mempercayainya.
Fita menghela nafasnya, ia tidak bisa berkutik dengan rentetan jawaban yang Gavi berikan. Anak ini terlalu pintar untuk di ajak berdebat. Dan, dia tahu benar bagaiaman dia berdiri di posisinya.
Niat baik yang Gavi miliki untuk tidak melibatkan banyak orang di hidupnya patut di acungi jempol, karena ia tidak ingin menjadi beban di kehidupan siapapun.