Keputusan tiba-tiba yang Gista berikan meninggalkan lubang besar di hatinya.
Mengingat banyaknya hal indah yang sudah di lalui keduanya, membuat ia tidak bisa menerimanya begitu saja.
“Ahhh...,” Gavi berteriak kesal di dalam mobilnya.
Tentu saja hal ini juga terasa begitu menyakitkan untuknya dan sulit untuk ia bersikap biasa saja.
Ia tidak tahu jika selama ini tindakan yang di lakukannya telah melukai hati Gista dan membuatnya merasa seperti itu.
“Bagaimana, bisa berakhir seburuk ini?” gumam Gavi di dalam hatinya.
Dahi Gavi mengerut, matanya terpejam setelah kilatan cahaya terang tertuju ke arahnya.
Tiga detik kemudian, Gavi kembali membuka matanya. Cahaya itu masih menyala, membuat gavi membelokkan setir ke sebalah kiri dan menghentikan mobilnya.
Penglihatannya kembali, bola mata Gavi berkeliaran mencari sumber cahaya yang masuk.
Dengan jarak tiga meter, ia melihat sebuah mobil parkir.
Sang pemilik berjalan keluar, dengan sebuah isyarat ia juga meminta Gavi segera keluar.
Gavi menurutinya, ia berjalan lebih dekat. Memastikan siapa yang datang.
“Bang Rio?” panggil Gavi, mengenalinya.
Rio tersenyum menyeringai, seperkian detik kemudian tubuh Gavi terhuyung. Setelah mendapat sapaan pukulan dari Rio yang mendarat di pipinya.
"Akhhh...,” rintihnya, kesakitan.
Pukulannya kuat, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya dan membuat pandangannya kabur.
Kepala Gavi masih menunduk, ia mencoba mengumpulkan kembali tenaganya.
Tidak, ia tidak bisa tergeletak begitu saja hanya karena sebuah pukulan.
Ia perlu bangkit, agar bisa mencari tahu alasan kenapa Rio tiba-tiba memukulnya.
Tap
Lengan Rio menarik kerah baju Gavi, membuat keduanya kembali sejajar.
“Jauhin Zoya!” perintah Rio.
“Kenapa, apa alasannya? apa dia yang memintanya?” tanya Gavi, lengannya menangkis tangan Rio dari bajunya.
“Apa ada alasan buat lo terus di sampingnya? emang ga bisa ya lo biarin dia hidup sendiri?” balas Rio, didiringi sebuah pertanyaan lanjutan.
“Ya, dia harus terus di samping Gavi, Gavi sangat membutuhkannya. Gavi harap bang rio, bisa ngerti dan berhenti permasalahin ini,” jawab Gavi dengan tegas.
Jawaban yang Gavi berikan, memantik amarah Rio. Berfikir, apa hal yang membuatnya seberani ini.
Kenapa, dia tidak mengerti tentang hubungan yang di jalin keduanya.