Permintaan daribGavi terasa ledekan lain yang Rio Terima.
“Gue ngga bisa!" tugas Rio.
"Bahkan buat satu detik aja, gue ngga bisa ngijinin!” terus Rio, menolak.
Gavi beranjak dari posisinya, ia menepuk-nepuk debu yang berada di baju dan tubuhnya.
“Apapun jawaban lo itu ga penting buat gue,” balas Gavi.
“Lagi pula, siapa lo berhak bicara kaya gitu?’
“Selama Zoya mau gue terus di sampingnya, gue bakal tetap ada!” ujar Gavi, mengakhiri pembicaraannya dengan Rio.
Gavi memutar tubuhnya, kakinya melangkah percaya diri meninggalkan Rio yang masih diam di tempat.
Fakta yang Gavi berikan di akhir percakapan, memang benar. Namun, Rio tetap tidak bisa menerimanya. Ia sudah meminta baik-baik kepada anak itu.
Namun, anak itu malah menantangnya dan tidak menghargai keberadaanya sebagai pacar Zoya.
Bug
Rio tidak bisa meredam amarahnya, membuat Gavi harus kembali menerima pukulan yang di layangkannya.
Pukulannya sangat kuat, seolah Rio mengerah kan seluruh tenaganya dan langsung membuat Gavi kembali tergeletak di jalanan.
Matanya terpejam, meringis merasakan tekanan di lengan kirinya.
“Gue ngga punya pilihan Gav, lo yang akhirnya buat gue jadi segila ini!” ucap Rio, setelah melampiaskan kekesalannya ia meninggalkan Gavi.
Untuk waktu yang lama Gavi bertahan di posisi itu, ia mengatur nafasnya. Memberi jeda untuk tubuhnya agar bisa kembali pulih dan mengumpulkan tenaga.
Perbincangan kali ini terlalu banyak mengurus tenaganya secara fisik maupun mental.
Ia penasaran, apakah sikap Rio memang seperti ini?
Lalu, bagaimana keduanya bisa bertahan selama ini? bagaimana cara Zoya menghadapinya.
Tubuh Gavi berguling di aspal jalanan, merubah posisinya menjadi terlentang. Sesekali terdengar helaan nafas yang terus berkejaran dengan ringisan rasa sakit yang tengah di rasakannya.
Di saat seperti ini banyak hal yang masuk ke kepalanya. Ketakutan-ketakutan yang duluvia bayangkan sekarang terjadi. Membenarkan jika kehadirannya memang hanya beban bagi orang-orang di sekitarnya termasuk Zoya.
Orang yang paling di percayainya, setelah mengetahui Rio begitu terganggu dengan kehadirannya. Mungkinkah, untuk Gavi bisa kembali bersama Zoya? Tanya Gavi di dalam hatinya.
Perasaan yang ia rasakan semakin berat dan hancur.
Bola matanya melihat ke arah langit, yang menunjukkan satu cahaya terang yang berasa dari bulan sabit. Di tengah kekacauan yang di hadapinya, benda itu terus bersinar. Menemaninya di tengah jalanan yang sepi dan gelap ini.
Menyadari keberadaannya, membuat Gavi merasa tenang dan berfikir jika ia tidak pernah sendiri.
Hembusan angin menari di tubuh Gavi, meredakan rasa panas yang menguasainya. Seolah ada hal lain yang datang untuk menghiburnya.
“Semua akan baik-baik saja.”
“Kamu tidak sendirian dan ini akan segera berlalu!” kata-kata itu terlintas di benaknya.
Sudut bibir Gavi tersenyum, merasakan kehadiran semesta yang datang untuk mendukung dan menguatkannya.
***