Seperti jadwal yang sudah di agendakan.
Hari ini aula mini berubah menjadi studio foto. Sejak kemarin Gavi dan teman-teman sudah membersihkan dan membawa sebagian barang-barang yang di berikan.
Tim property masuk, membawa sebagian bahan dan alat yang akan di perlukan, di bantu tim dekorasi mereka meletakkannya di tempat yang sesuai dengan sketsa yang sudah di bagikan sebelumnya. Di bagian paling depan tim fotograper tengah menata pencahayaan, sudut kamera dan menyambungkannya ke sebuah layar led agar mudah di lihat oleh tim penanggung jawab.
Sementara di ruangan sebelahnya, terlihat para pemain yang sedang di rias oleh tim make up dan di sempurnakan oleh tim penata rias dan kostum. Memastikan tidak ada yang tumpang tindih, selaras namun tetap menonjolkan karakter yang di perankan.
Tring
Sebuah pesan masuk, menghentikan langkah kaki Gilang yang berada di ambang pintu masuk aula.
“Lebih perhatikan adikmu!” isi pesan yang juna kirimkan untuk Gilang.
Untuk beberapa saat Gilang terdiam, mencoba memahami pesan yang Juna kirimkan.
sejak kemarin keduanya belum bertemu, akhir-akhir ini Gilang mulai kewalahan dengan tugas tamabahan yang harus di dapatnya karena sering melewatkan jam pelajaran.
“Ya, tentu!” balas Gilang dengan cepat.
Satu detik kemudian, ia melangkahkan kakinya masuk ke aula. Memastikan keberadaan Gavi yang tengah berkumpul dengan teman-temannya
Sambil menghadap kea rah layar proyektor, mereka mengkaji kembali contoh-contoh pengambilan gambar yang akan di lakukan hari ini.
Menurut pandangan Gilang tidak ada yang salah dengannya. Dengan perasaan itu, ia membawa tubuhnya ke ruang wardrobe untuk mengganti pakaiannya.
“Kalian berdua berantem Lang?” ucap Gista, menyapa Gilang dengan sebuah pertanyaan.
“Siapa?” jawab Gilang, bingung.
“Kamu sama Gavi?” balas Gista.
Gilang menggeleng, sejak kapan keduanya akan terlibat pertengkaran. Itu, suatu hal yang mustahil.
Melihat keluguan Gilang, membuat anak-anak yang berada di ruangan yang sama saling bertukar pandangan.
Dannia bergerak mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukan gambar Gavi dengan wajah penuh lebam
Gilang mengernyit, terkejut dengan apa yang di lihatnya.
“Kapan ini terjadi?” gumamnya.
“Apa karena ini, papa mengirim pesan tadi?” pikirnya menyimpulkan.
Gista terperangah, mendapati Dannia bisa mendapat gambar itu dengan cepat.
“Lo belum ketemu? kok bisa, bukannya kalian se rumah ya?” tanya Dannia, lebih jauh. Reaksi yang Gilang berikan membuatnya bingung.
“Gue sibuk, ngerjain tugas susulan. jadi belum sempat ketemu dia!” ujar Gilang, memberi alasan.