“Sini, gabung,” ujar Dannia, memanggil keduanya untuk bergabung dengan barisan.
Revi mengangguk setuju, di belakangnya terlihat Gavi bejalan mengikutinya sembari berfikir di manakah ia harus berdiri? di samping Zoya ataukah di belakang Gista?
Dengan tatapan matanya Zoya memberi isyarat untuk Gavi bediri di sebelahnya.
Langkah Gavi terhenti, saat ini ia enggan untuk berdiri di antara keduanya. Dan memilih untuk berdiri di bagian paling ujung barisan.
Zoya mengernyitkan dahinya, mencari tahu apa yag membuat Gavi seperti ni, sejak tadi ia berusaha terus menjauhi dan menghiraukan apa aynag ia katakan.
Begitupun dengan yang Gista rasakan, sikap yang Gavi tunjukan hari ini membuat ia menyimpulkan jika hubungannya sudah berakhir. Biasanya jika dalam keramaian seperti ini, Gavi akan selalu berada di belakangnya, menjaga dan memberi arahan secara rahasia.
Namun, kali ini ia benar-benar memberi jarak. Menimbulkan rasa kecewa di hati Gista, ia tahu tidak seharusnya merasa seperti ini. Namun, Gista juga tidak bisa membohongi perasaannya. Tidak mudah untuknya bersikap biasa saja, setelah apa yang terjadi kemarin malam.
Setelah melakukan sesi foto, Zoya bergerak menghampiri Gavi tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Kalian dari mana aja?” tanya Dannia, mendahului.
“Kita, di paggil pak dedi,” jawab Gavi, singkat.
Zoya diam mendengarkan dari belakang.
“Tentang apa aja? kok lama banget?” ia terus bertanya.
“Banyak, dari persiapan pertunjukkan, soal konsumsi, tempat terus undangan. Sama hal-hal lainnya deh ...,” jawab Revi menjelaskan seccara detail.
Zoya bernafas lega, mengetahui ia pergi bukan karenanya.
Tubuh gavi berbalik, kedua lengannya mengangkat kotak berisi peralatan dan siap membawanya ke tempat penyimpanan.
Tugasnya yang tak kunjung berakhir, membuat Zoya kesulitan untuk mengajaknya bicara.
Setelah mengembalikan aula seperti keadaan semula. Satu persatu anak-anak mulai berpamitan untuk pulang.
Termasuk Gavi, ia terlihat buru-buru pergi.
Di aula, Gavi meminta Gilang untuk mengantarnya pulang. Namun, tentu saja Zoya tidak bisa mengindahkan keinginan itu dengan mudah.
Ia mempercepat langkahnya, mengikuti Gavi dari belakang dan memaksa masuk ke dalam mobil yang di tungganginya.
Melihat keberadaannya, menyadarkan Gavi jika ia tidak mungkin bisa lolos darinya. Meminta Zoya keluar, akan terasa percuma, karena ia tidak akan mendengarnya.