Dearly

MiiraR
Chapter #78

Lust

Hal itu membuat Gavi berfikir semakin dalam.

Menyalahkan semua kekacauan ini terjadi karena keberadaannya. Seandainya, saat itu ia memilih tinggal bersama ibunya. Mungkin orang-orang yang ia temui sekarang tidak akan pernah mengalami kesulitan yang di peroleh karena kehadirannya.

"Huffft ...," Ia menghela nafas panjang. Berharap ada jalan keluar yang di temuinya.

Di tengah riuh ini, satu pertanyaan mengusik hatinya.

“Setelah hari ini, apakah papa juna tetap tidak akan memberi tahunya?” tanya Gavi, sendirian. Mungkinkah ia akan bertindak pura-pura baik-baik saja di hadapannya?

“Jika ya, apa yang harus Gavi lakukan, berapa lama lagi ia bisa menahan semuanya?’’ terus Gavi, semakin tidak tahan dengan fakta menyakitkan ini.

Ia harap Juna bisa berbicara terus terang kepadanya dan berusaha mencari solusi secara bersama-sama.

Bukan terus berfikir sendirian dan membuatnya semakin tersiksa.

"Haruskah ia mendahuluinya? Dan mengatakan jika ia sudah tahu tentang semuanya?” ucap Gavi, berfikir untuk memulai semuanya lebih dulu.

##

Cafe Ligo

14.45 wib

Anak-anak dari sma semesta raya mulai berdatangan, memenuhi undangan yang Gavi buat di ruang obrolan grup.

Dari satu minggu sebelumnya Gavi sudah mereservasi tempat ini, memberi nafas sejenak untuk anak-anak sebelum mereka harus kembali bergelut dengan kegiatan yang tidak ada akhirnya.

Biasanya kegiatan ini akan di adakan setelah acara pertunjukan selesai berguna sebagai perayaan. Namun, kali ini ia membuatnya lebih awal dari biasanya.

Berharap ia masih bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-teman yang lain. Namun, perintah yang Juna buat, tidak bisa Gavi tolak. Dan membuatnya terhalang untuk bergabung dalam kegiatan ini.

Para anak laki-laki terlihat antusias berdiri di samping tempat billiard, mendukung orang-orang yang tengah bertanding. Sedangkan para anak-anak perempuan terlihat asik berfoto, berkeliling tempat juga menikmati santapan pembuka yang sudah di siapkan.

“Hai ...,” sapa anak-anak melihat kedatangan Zoya dan Gilang dari jauh.

Keduanya melambaikan tangan, membalas sapaan yang di terimanya.

Pandangan Gista menoleh, ke arah riuh sorak yang di dengarnya. Selanjutnya, bola matanya bergerak mencari sesuatu berharap seseorang akan datang. Ia pikir, mungkin hari ini akan ada kesempatanya untuk bicara dengan Gavi. Rasanya obrolan malam itu hanya berjalan dari arahnya saja, ia tidak memberi kesempatan untuk Gavi berbicara. Dengan amarah yang tengah dirasakannya, membuat ia mengambil keputusan yang ceroboh.

Langkah Gilang dan Zoya terus bergerak maju, menuju sebuah meja panjang untuk bergabung dengan yang lainnya.

“Eh iya, gavi mana?” tanya Dannia.

“Kayaknya, telat lagi ya?” balas Abuy, menjawab.

Lihat selengkapnya