“Gav,” panggil Juna.
Suara itu terdengar jelas di telinganya, Gavi berusaha membuka matanya.
Menyadari dirinya masih berada di tempat tidur. Membuat ia sadar jika apa yang ia bicarakan tadi hanya terjadi di dalam mimpi. Alam bawah sadarnya mulai terganggu, karena Gavi terlalu banyak memikirkannya.
“Akhh...,” ujarnya mengerang sambil berusaha bangkit.
“Udah selesai, pa?” tanya Gavi, melihat ke arah Juna yang berdiri di samping ranjangnya. Seperti biasa, wajahnya terlihat datar tidak menunjukkan kabar baik atau kabar buruk yang sudah di dengarnya.
“Cepat, ganti baju!” ujar Juna memberi perintah, sembari meletakan totebag berukuran besar di ranjang.
Gavi menatapnya, heran. Tidak ada pernyataan yang menunjukkan jika ia mengkhawatirkan keadaannya. Seolah tidak ada yang salah, ia segera meminta Gavi untuk mengganti pakaiannya.
"Cepat!” perintah Juna.
Gavi mengangguk, mengiyakan. Ia segera berjalan ke toilet dan menuruti perkataan Juna.
Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan pakaian formal, bagian atasnya ia memakai tiga layer, kemeja, rompi yang di baluti jas luar berwarna krem senada dengan celana yang di pakainya untuk melengkapi penampilannya ia juga mengenakan sepatu pentopel mirip dengan yang Juna pakai.
Di ruang yang dingin itu, ia memutar tubuhnya. Bergerak luwes seperti model, menunjukkan dan meminta pendapat sang ayah.
“Gimana pa?” tanya Gavi.
Juna beranjak, mendekat ke arah puteranya. Lengannya bergerak merapihkan rambut dan kerah baju dan dasi Gavi, memastikannya terlihat rapih.
“Bagus,” Balas Juna.
“Apkah kita akan pergi ke pesta?” tanya Gavi, penasaran kenapa ia harus berdandan sangat formal.
Juna mengangguk, mengiyakan.
Jawaban yang Juna berikan, membuat Gavi sadar jika ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentangnya. Ia tidak ingin merubah suasana hati yang tengah dirasakan ayahnya.
“Gilang akan menyusul kan?” tanya Gavi, lagi. Berharap saudara nya akan ikut menemani.
Hening, tidak ada jawaban yang Juna berikan.
Selanjutnya terlihat ia memberi isyarat ke seorang asistennya.
Seseorang berjalan dengan membawa sebuah kotak yang berisi kacamata dengan berbagai macam frame.
Dahi gavi mengerut, mencari tahu mungkinkah dokter sudah menyadarinya. Dan ia yang mengusulkan ini kepada papa?. Gumam Gavi, di dalam hatinya.
“Pilihlah dan pakai apa saja yang menurut kamu cocok,” ucap Juna, meminta Gavi segera memilih.
Gavi mengangguk, mengiyakan. Ia mengambil secara asal, memakainya, dan melihat ke arah cermin.
Setelah mendapat persetujuan dari ayahnya, mereka segera berangkat ke tempat tujuan.
Lengan Gavi bergerak memijat bagian dadanya yang terasa terus berdegup kencang. Penasaran, siapa yang akan di temuinya malam ini.
Berbanding terbalik dengan pesta yang di pikirkannya, Juna membawa Gavi ke sebuah restoran barat.
Suannanya sangat sepi dan tenang.