Tujuh menit kemudian, Gabriel bergabung dengan keduanya. Pandangannya tertuju ke arah Chelsea yang sudah memakai luaran jas milik Gavi.
“Dingin?” tanyanya Memastikan.
Chelsea mengangguk, mengiyakan.
“Mau pakai punya gue?” tanya Gabriel, menawarkan bantuannya sembari berusaha melepaskan jas yang di pakainya.
“Ngga usah” balas Chelsea, menahannya. Ia, menggerakkan bola matanya memberi isyarat agar Gabriel bisa berhenti mengkhawatirkannya.
Berkat kehadirannya, suasana hening yang mulai mencuat kembali mencair dan terasa lebih hangat. Seperti biasa yang dilakukan banyak anak-anak saat bertemu. Mereka langsung mengambil foto mengabadikan apa yang terjadi hari ini. Chelsea juga mengajak keduanya untuk melakukan dance challenge yang tengah trend di sosial media.
Suasana ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Saat bersama dengan orangtuanya Mereka terlihat jauh lebih tenang dan berhati-hati.
Namun, saat hanya bertiga mereka bebas mengekspresikan dirinya masing-masing.
Tak berhenti disitu, obrolan mereka menjadi semakin dalam. Terlalu banyak hal yang harus di bahas, dari sekolah, apa yang sedang mereka hadapi dan bagaimana rencana mereka di masa depan.
“Bagaimana dengan hubungan kedua orang tua kita? Apakah itu akan menjadi hal yang lebih serius?” pertanyaan dari Chelsea muncul di sela obrolan, membuat Gavi dan Gabriel tak henti saling bertukar pandangan.
Pasti akan terasa menyenangkan, menyadari anggota keluarganya semakin bertambah banyak. Namun, hal lain mengusik Gavi.
“Bisakah mereka memahami kekacauan yang tengah terjadi di keluarganya?” Tanya Gavi di dalam hatinya, kepercayaan diri yang di miliki nya semakin berkurang.
*#
Suasana di Cafe Ligo semakin memanas dan ceria, mereka semakin tertarik ke dalam suasana yang sangat menyenangkan ini. Beberapa anak terlihat memainkan alat Band dan memainkan sebuah lagu.
Membuat Zoya tertarik semakin dalam, mengingatkan beberapa tahun sebelumnya. Dimana ia masih duduk di bangku SMA , bersenang-senang dengan teman sekolahnya, menikmati momen yang ada tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Berbeda dengan sekarang, apa yang ia lakukan Zoya pasti memikirkan pengaruhnya terhadap orang lain.
Lengannya bergerak, memainkan ponselnya kembali. Mencari tahu apakah ada jawaban dari setiap pesan yang di kirimkannya kepada Gavi.
Pandangannya terhenti di balon obrolan yang hanya bewarna hijau itu, tidak ada balasan bahkan Ia terlihat belum membacanya.
Apa yang membuat Gavi tidak bisa menjawabnya? Cemas Zoya, biasanya Ia akan mengabarinya, menceritakan apa yang terjadi di dalam hidupnya setiap harinya.
Namun, akhir-akhir ini Gavi sering melewatkannya. Pada awalnya Zoya merasa itu hanya karena kesibukannya, Ia juga merasa itu tidak terlalu penting karena sekarang ia selalu bersamanya jadi apapun yang terjadi Zoya pasti akan segera mengetahuinya.
“Waaah Daebaaak...,” ujar Dannia, matanya terbelalak.
“Kenapa Dan?” tanya Revi yang tengah duduk di sampingnya.