Dearly

MiiraR
Chapter #82

Either

"Lo suka ya sama dia Chels?’” tanya Gabriel di tengah perjalanan pulang ke rumahnya.

Margareth yang duduk di depan, merasa tertarik ke dalam obrolan Gabriel dan Chelsea. Penasaran dengan jawaban yang akan di berikan puterinya.

“Dih, apaan? nggak kok!?” bantahnya.

Margareth tersenyum, ia tidak tahu apa jadinya jika anak itu tertarik kepada Gavi. Sementara, ia dan ayahnya sedang pendekatan untuk melangkah ke arah yang lebih seris.

“Udah deh, ngga usah bohong. Tahu gue!” ujar Gabriel terus menggodanya hingga akhir.

“Udah ka, jangan gitu. Kasian adiknya!” ujar Margareth mencoba menghentikannya.

“Emang ngga kok bu. Lagian aku juga tahu Gavi udah punya pacar?” jelas Chelsea.

“Oh ya, siapa? Kak Zoya?” tanya Gabriel, memastikan.

"Bukan, ada teman sekolahnya!” balas Chelsea lagi.

“Terus Zoya, siapa kok kamu tahu kak?” tanya Margareth, semakin ingin tahu.

"Itu loh bu, yang kemaren ikut main tennis sama kita,” balas Chelsea lagi.

“Dia atlet basket loh bu, konten kreator juga!” tambah Gabriel, menjelaskan pekerjaan Zoya yang sebenarnya.

"Oh ya, patesan jago mainnya!” puji Margreth.

Gabriel mengangguk setuju, seandainya saat itu Gavi tdak ceroboh mungkin keduanya akan keluar sebagai pemenang.

" Kayanya mereka dekat banget ya, soalnya sebagian besar sosmed milik Gavi isi dia semuanya. Beberapa minggu yang lalu, mereka juga pergi ke pantai bareng,” ujar Chelsea, mengatakan pendapatnya.

"Hafal banget lo, sering stalking dia ya?" ujar Gabriel kembali menggodanya.

“Dh yel, lo ngeselin banget deh!” ucap Chelsea tidak suka dengan cara Gabriel menggodanya.

“Udah, ngaku aja!” terus Gabriel, ia tidak menyerah dan terus mendesak Chelsea untuk mengakuinya.

#*

“Tujuannya kesini ya pak, untuk argo nya nanti saya bayar dua kali lipat,” ujar Gavi sembari menunjukan sebuah alamat dari layar ponselnya.

Ia sengaja berbicara seperti itu, agar tidak ada penolakan dari taksi yang di tumpanginya. Mengingat perjalanan yang akan di laluinya cukup jauh.

Ibu jarinya bergerak menghiduokan data seluler ponselnya, mbuat internet kembali terhubung dan bisa mengaksesnya. Saat, di rumah sakit tadi ia sengaja mematikannya agar tidak ada satu panggilan yang masuk dan mengganggunya.

Ada rasa cemas yang Ia rasakan, takut jika Fita akan menghubunginya.

Kring kring kring.

Satu menit setelah di nyalakan, ponselnya tidak berhenti berbunyi, menandakan telalu banyak pesan yang harus di terimanya.

Lihat selengkapnya