“Gimana? Cantikkan?” balas Gavi, meminta pendapat Fita. Dengan kamera belakang ponselnya, Gavi menunjukkan setiap detail keindahan tempat ini.
“Wahhhh?” ujar Fita berdecak kagum, dengan pemandangan yang tersaji di dalam ponselnya.
“Pasti menyenangkan, berada disana,” timpal Fita.
Gavi mengangguk setuju, ia tersenyum puas melihat satu orang lagi terpikat kepada tempat ini. Ada dorongan lain yang ia rasakan, seolah ingin menunjukkan betapa hebatnya tempat yang tengah di lihatnya sekarang.
Lengan Gavi kembali bergerak, mengubah pengaturan kamera agar kembali mengarah padanya.
“Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa?” tanya Gavi penasaran.
“Nggak, aku cuman pengen lihat kamu aja!” balas Fita.
“Pembohong!” potong Gavi.
“Kamu pergi ke sana sendiri?” tanya Fita mengalihkan pembicaraan.
Gavi mengangguk.
“Aku nggak ganggu waktu kamu kan?” ujar Fita, memastikan.
“Nggak, aku lagi free!”
“Kalau ada yang dokter ingin sampaikan, silahkan. Aku siap mendengarnya!” balas Gavi, ia kembali menguatkan hatinya untuk hal-hal yang harus di dengarnya.
“Yaudah kamu lanjutin aja olahraganya, nikmatin waktu kamu di sana Gav!” balas Fita, ia mengakhiri panggilannya begitu saja.
Alasan ia menghubunginya untuk membahas kembali permintaan Gavi beberapa hari yang lalu. Sama seperti di awal Gavi kekeuh tidak ingin melibatkan orangtuanya dan terus meminta Fita untuk mendampingi nya.
Hari ini, ia memutuskan untuk mengiyakannya. Namun, melihat bagaimana ia memilih untuk pergi kesana dan melakukan apa yang di inginkannya. Membuat Fita menahan kabar baik ini darinya dan memberi ia waktu untuk terus melakukan apa yang sesuai dengan hatinya.
Gavi melangkahkan kakinya di atas treadmill, kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat terhenti karena panggilan dari Fita. Dengan cepat ia menemukan temponya lagi, mempercepat langkahnya semakin cepat, seolah ada yang sedang mengejarnya.
Deruan nafas terdengar saling bekerjaran dan dengan hentakan kakinya yang terlihat hampir melayang di udara. Detak jantungnya tak beraturan, keringat mulai membasahi tubuhnya, tidak peduli dengan apa yang di rasakan tubuhnya Gavi terus bergerak maju mengeluarkan seluruh tenaga yang masih tersisa.
Brug
Kakinya menyerah, ia tidak bisa mengimbangi kecepatan running belt yang akhirnya mendorong tubuh Gavi keluar dari treadmill.
“Aissh,” ujarnya berdecak kesal, dengan kemampuan dirinya yang semakin menurun.
Bug
Gavi mengambil posisi terlentang, membiarkan tubuhnya beristirahat untuk sejenak.
Bagian dadanya terasa kembali sesak membuatnya kesulitan untuk bernafas, detak jantungnya berdebar secara tak karuan, Gavi memejamkan matanya, merasakan rasa panas yang membakar bagian tubuh dan kakinya.
GEDUNG OLAHRAGA
16.45 WIB