Dearly

MiiraR
Chapter #86

God answer

“Masuklah...,” ujar Gavi, mempersilahkan dengan melebarkan pintu masuk itu.

“Makasih pak,” ujar Ros kepada seseorang yang mengantarnya.

Selanjutnya, Ia melangkahkan kakinya berjalan melewati pintu. Sekarang tidak ada alasan untuk Ia bisa mundur.

Suara pintu tertutup, Ros bisa merasakan adrenaline yang di milikinya semakin tinggi.

“Duduklah..., “ ucap Gavi, terdengar begitu canggung.

Ros mengangguk, mengiyakan.

Pandangannya bergerak, memperhatikan setiap sudut ruangan yang terlihat berantakan.

Lengan Gavi bergerak mematikan televisi yang masih menyala, selanjutnya Ia berjalan menuju Sofa untuk bergabung dengan ibunya.

Tap

Ia meletakkan sebuah botol air mineral, sebagai hidangan yang bisa di berikannya.

“Kamu baik-baik saja kan, nak?” ujar Ros, hal pertama yang keluar dari mulutnya.

“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!” balas Gavi.

“Bagaimana kamu tahu, aku ada disini?” tanya Gavi, Ia masih belum bisa memanggilnya ibu atau mama panggilan favorit nya.

“Tadi pagi Mama datang kesini untuk mengantarkan pesanan, dan tidak sengaja melihat kamu,” jawab Ros, berbohong.

Sebenarnya, Ia adalah orang pertama yang melihat Gavi terkapar di pesisir pantai. Saat itu juga ia langsung memanggil seorang dokter untuk memeriksanya, setelah mengetahui kondisinya baik-baik saja, Ia segera membawa Gavi ke resort.

Meskipun ingin, Ia tidak bisa membawa Gavi untuk pulang ke rumahnya. Ia tidak ingin Gavi semakin membenci dan menjauhinya. Beberapa kali ia datang ke resort untuk memastikan kondisinya dan memeriksa secara dekat.

Gavi masih menundukkan kepalanya, belum bisa menatap matanya.

“Apakah kamu masih membenci mama?” tanya Ros, lagi. Menanyakan bagaimana perasaan Gavi terhadapnya.

“Kenapa?” tanya Gavi, kali ini Ia menatapnya secara langsung.

“Karena meninggalkan kami?” timpal Gavi.

Jawaban yang di berikan Gavi terasa kilatan petir yang menyambar hatinya. Meski hal itu terjadi karena bukan keputusannya, Ros tetap tidak bisa mengelak. Mungkin, dari sudut pandangnya yang masih kecil Gavi dan Gilang akan berfikir bahwa ia sengaja meninggalkan mereka.

Keheningan baru kembali tercipta, Gavi memainkan lengannya. Ia juga tahu jika hal itu terjadi karena perintah dari neneknya, satu hal yang di ucapannya berhasil membuat keluarganya berantakan dan saling membenci.

“Itu semua sudah berlalu, Jangan di pikirkan lagi! Ma,” ujar Gavi.

Lihat selengkapnya