Perlahan ia membawa tubuh anak itu ke dalam pelukannya, mencurahkan segala perasaan yang selama ini di simpannya. Cinta yang tak pernah kunjung berhenti tumbuh di hatinya, rasa rindu yang ia rasakan setiap detiknya, dengan penuh kasih ia mengusap pangkal kepala Gavi membenamkan ke bahunya.
Tidak ada perlawanan yang Gavi berikan, ia membiarkan Ros memeluknya dengan erat. Semuanya masih terasa tidak nyata untuknya, bagaimana bisa seseorang yang sudah lama hilang dari hidupnya. Datang, dan berhasil merobohkan semua kekuatan yang selama ini di pasangnya.
Gavi memejamkan matanya. Pelukan itu berhasil membangunkan saraf-saraf nya yang sudah lama tertidur lama. Aroma ini, aroma harum yang hanya di milikinya. Sentuhan hangat dari kulitnya, suara yang hampir hilang dari ingatannya kini hadir tepat di hadapannya. Menenangkan dan meyakinkan ia untuk terus bersamanya.
Lengannya terangkat, berusaha menjauhkan tubuh Ros darinya. Ia tidak bisa tenggelam lebih lama lagi dalam pelukannya.
Namun, Ros menahannya dengan kuat.
“Maaf, tidak seharusnya mama meninggalkan kamu..., “
“Membiarkan kamu tumbuh dan melalui semuanya sendiri,” ujar Ros, kembali meminta maaf. Menyesal karena sudah melewatkan masa-masa emas yang tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Jemari Gavi mengusap pipinya yang basah karena air mata, ia benar-benar tidak tahu kenapa air matanya terus mengalir. Setiap ucapan dan tindakan yang Ros lakukan berhasil menembus hati terdalamnya.
*#*
Percakapan yang ia lakukan dengan Gavi tidak berjalan lancar, jelas jika ia masih terkejut dengan kehadirannya. Sehingga apapun ajakan yang ia berikan Gavi terus menolaknya.
Membuat hatinya terasa sakit dan berat, namun itu adalah resiko yang harus di dapatnya. Ros tahu, jika tidak akan mudah untuk dirinya bisa di terima oleh anak-anaknya lagi.
Dengan perasaan yang masih tersisa, Ros berjalan keluar dari resort, kepalanya terus menoleh. Berharap Gavi akan segera menyusul dan memberi kesempatan untuk bisa bersama walau hanya sehari saja.
Rasanya, ingin sekali ia bisa menunjukkan segala yang dimilikinya untuk anak itu, mencurahkan segala perasaannya untuk Gavi, menuruti segala keinginannya dan mendengar bagaimana hari yang ia jalani selama sepuluh tahun ini. Apa yang terasa berat untuknya, hal menyenangkan apa yang terjadi di dalam hidupnya, dan semua hal-hal kecil maupun besar Ros sangat ingin mendengar suara celotehannya.
Namun, sampai saat ini ia tidak terlihat menampakkan dirinya. Menunjukan jika keputusannya sudah bulat dan tidak akan ada celah bagi Ros untuk masuk ke dalam hidupnya lagi.
Ros menyerah, ia tidak bisa tterus memaksa Gavi. Ia pulang dengan keyakianan jika suatu saat anak itu akan datang kepadanya dengan hati yang lebih terbuka.
#*#
Kepala Gavi menunduk, banyak perasaan baru yang muncul di hatinya. Semua ini masih terasa tidak nyata, namun sentuhan pelukan dan ucapan yang Ros berikan tidak bisa di sangkalnya.
Selanjutnya, kepalanya terangkat pandangannya melihat ke arah luar jendela yang menunjukkan pemandangan yang kembali menyayat hatinya.