Gavi terkekeuh kecil, melihat Ros yang melambatkan laju sepedanya.
Tidak ada rasa kesal atau jengkel yang muncul di hatinya, ia hanya merasa cukup bahagia melihatnya. Pemandangan itu, terasa begitu menakjubkan. di tengah peralihan langit menuju malam, ia melihat wanita yang menjadi alasan ia lahir ke bumi berlalu riang dengan menaiki sepedanya. Bertindak seolah tidak peduli, namun tidak pernah meninggalkannya.
Entah kenapa Gavi mulai menikmati momen ini, meskipun ia tahu akan jatuh ke dalam perangkap yang di buat ibunya. Tubuhnya tidak menolak dan justru menantikan hal ajaib apa lagi yang akan ia lakukan untuk menahannya.
“Wihh ketemu lagi nih kita?" ujar Ros bertindak seolah ini kebetulan lainnya, saat keduanya kembali berpapasan di supermarket.
Kepala Gavi menoleh ke sebelah kanan, memperhatikan Ros yang sedang membawa tas belanja.
"Benarkah ini hanya sebuah kebetulan saja?" Gumam Gavi, di dalam hatinya. Merasakan jika pertemuan ini terlalu di paksakan oleh Ibunya.
”Apa yang mau kamu beli, sekalian mama beliin” terus Ros, kembali memberikan penawaran untuknya. Lengan kanannya terlihat sibuk mengambil pilihan di rak tempat Gavi berada.
“Ngga usah, udah sana mama belanja sendiri aja. Gavi, bisa urus ini sendiri!" tolak Gavi.
"Dih kok sendiri-sendiri, mending barengan aja. Kan, jadi lebih seru!" balas Ros.
"Ga bisa, Gavi buru-buru. Taksinya udah nunggu,” ujar Gavi, kembali menolaknya.
"Udahlah Gav, ngapain buru-buru. Lagian, besok kamu masih libur kan!” balas Ros, terus membujuknya.
“Tinggal aja, di sini se malam lagi!” pintanya.
Gavi mengambil nafas lebih dalam, memikirkan permintaan Mama Ros yang terus di pintanya sejak tadi.
"Apa yang membuatnya kekeuh terus meminta Gavi untuk tetap tinggal. Belum jelaskan penolakan yang ia berikan?" Tanya Gavi di dalam hatinya.
"Eh, bu Ros?” ujar seseorang memanggilnya.
Suara itu membuat keduanya menoleh secara bersamaan, pikiran Gavi sebelumnya ikut buyar.
Bibir Ros tersenyum, menyapa dua orang wanita paruh baya yang berada di depannya. Ia tetangga, rumahnya.
"Lagi belanja juga Bu?" ujar Ros, melempar obrolan ke orang yang memanggilnya.
Langkah kaki Gavi bergerak mundur membiarkan ibunya untuk terus berbincang, dengan begitu ia bisa pergi darinya.
Lengan Ros, menahan Gavi untuk terusdi sampingnya.
“Ini siapa?" tanya seseorang.
"Putera saya, bu” balas Ros.
Gavi menatapnya, tidak percaya bagaimana ia bisa memperkenalkannya begitu mudah kepada orang-orang yang baru di temuinya.
“Oh ya, ko baru lihat?” sahut Tina.
"Tinggal sama ayahnya, lagi libur jadi main kesini!” jawab Ros.