Obrolan itu berakhir, Rasa kecewa kembali memenuhi hati Rio, ia tidak mengerti kenapa Zoya bisa melakukan ini terhadapnya.
Bukanlah beberapa jam lalu, ia masih menghubunginya dan mengatakan jika ia menunggu kedatangannya.
Tapi, apa sekarang? Dimana dia? Seberapa penting pekerjaan yang di milikinya, sehingga bisa mengabaikannya lagi? Apakah Zoya sengaja melakukannya, untuk mengujinya? Lalu, apa yang harus Rio ucapkan kepada orangtuanya.
Bagaimana ia bisa pergi melamar kekasihnya, namun orang yang di lamarnya tidak menunjukkan wajahnya sama sekali.
Dari sudut pandang orangtua Rio ini akan membuat kesal dan malu mereka. Seolah kehadiran mereka tidak di hargai oleh Zoya. Dan hal itu pasti mengurangi penilaian keluarga Rio terhadap Zoya.
“Masih belum bisa di hubungi?” tanya Evan.
Jasmine menggeleng, panggilannya tidak terhubung sama sekali.
“Sudah tanya personal assistant nya?” tanyanya, lagi.
“Sudah, dia bilang jadwal Zoya hari ini hanya latihan saja. Tidak ada pekerjaan lain!” balas Jasmine.
“Lalu, bagaimana dengan teman-temannya?” Terus Evan, kembali bertanya.
“Mereka bilang, latihannya sudah selesai sejak sore tadi...,” jawab Jasmine.
Jawaban itu menimbulkan keheningan untuk keduanya, mereka mulai tenggelam ke dalam pikirannya masing-masing.
Apa yang terjadi dengan Zoya? Kenapa dia menjadi seperti ini? Bagaimana ia tidak memberitahukan kedatangan Rio kepadanya? Mungkinkan, mereka sedang bertengkar dan membuat Zoya ingin menghindarinya?
Tapi, ini terlihat sangat kekanak-kanakan seharusnya Zoya bisa mengatasi ini sebelum membuat Rio datang ke rumahnya dan menciptakan masalah baru yang kini melibatkan keluarganya. Pikir Jasmine.
**
Lengan Ros bergerak membuka gerbang kayu rumahnya, di belakangnya terlihat Gavi mengikuti dengan menuntun sepeda yang di kendarai keduanya.
Rumah Ros terletak lumayan jauh dari perkembangan proyek pantai, ia menempati sebuah rumah yang berdekatan dengan pemukiman warga lainnya.
Tap
Gavi memarkirkan sepeda di halaman, pandangannya terhenti melihat rumah satu lantai yang di huni oleh ibunya yang terbuat dari bahan kayu dan dominan di cat warna putih. Di bagian halaman terlihat berbagai macam bunga tumbuh yang di rawat dengan kedua tangannya.
Selanjutnya, kakinya melangkah melewati pintu yang terbuat dari kaca. Lengan Gavi terlihat penuh dengan barang-barang yang di belinya tadi.
“Selamat datang..., “ ujar Ros memberi sambutan hangat untuknya.