Dearly

MiiraR
Chapter #90

Vise

Tanpa sadar air matanya menetes, menyadari alasan album itu berhenti di angka sepuluh. Tahun dimana kedua orang tuanya berpisah, dan karena itu pula Ros tidak bisa mengabadikan tumbuh kembangnya bersama Gilang lagi.

Perasaan tercekat, kembali memenuhi hatinya. Merasa bersalah karena harus membuat Ros menyimpan dan mengalami ini sendirian. Ia bisa merasakan kesungguhan Ros dalam menjaga perasaannya, secara telaten Ia menyimpan setiap perkembangan yang di lalui kedua puteranya. Tidak membiarkan hal itu menghilang dalam ingatannya.

Dan, sekarang Gavi juga tahu alasan kenapa ia sering memotret dan mengabadikan semua moment yang terjadi di hadapannya. Semua ini tidak lain diturunkan dari kebiasaan Ros.

Namun, kejadian hari ini terasa begitu besar untuknya. Sehingga lensa apapun tidak akan bisa menagkapnya dengan benar.

Dan membuat Gavi membiarkan semuanya mengalir bebas begitu saja, tidak ada keinginan untuk ia memamerkannya. Ia hanya akan menikmati ini sendirian, menyimpan rahasia besar ini di sudut hatinya.

Perasaan itu menahan dan mengikat Gavi lebih kuat.

Moment-moment itu terasa magis, dan membuka ingatannya lebih dalam. Tidak ada moment yang Ros lewatkan, ia menyimpan dan menatanya dari waktu ke waktu. Menunjukkan perubahan fisik yang di alaminya.

Dari awal ia lahir ke bumi, bagaimana ia bisa berdiri, berjalan dan menemukan kepercayaan dirinya.

Air mata Gavi mentes, melihat bagaimana ia tumbuh bersama dengan kakaknya Gilang. Di album foto itu, menunjukkan keduanya yang selalu bersama-sama. Namun, sekarang berbeda. Entah kenapa berada di sisi Gilang sekarang masih terasa sulit untuknya.

Lengan Gavi bergerak, membuka album lainnya yang berjudul junior high school. Masa peralihan dirinya dari anak-anak ke fase remaja, disana terlalu banyak hal yang ingin ia ketahui dan pelajari. Di waktu itu, ia benar-benar menyibukkan dirinya dengan apa yang ia sukai.

Sedangkan di album senior high school. Gavi mulai memfokuskan dirinya ke dalam dunia seni peran dan belakang layar, berbeda dengan Gilang yang lebih menyukai bidang olahraga.

Album itu masih terisi setengahnya, belum selesai ia rampungkan. Gavi penasaran, bagaimana ros bisa memiliki foto-foto ini. Apakah diamemotretnya endiri? Meminta bantuan orang lain? Atau mengumpulkannya dari sosial media.

Namun, disisi lain hatinya merasa senang. Menyadari bahwa apa yang ia fikirkan tentang ibunya benar. Sekalipun, ros tidak pernah meninggalkannya, hanya saja keadaan yang sedang tidak berpihak kepadanya. Membuat ia harus mengambil jarak dari kedua anak yang sangat ia cintai dan merelakan mereka tumbuh bersama dengan ayahnya juna.

Sepuluh menit kemudian,

Satu persatu hidangan yang Ros siapkan kini memenuhi meja, ada pepes ikan, tumis kangkung, tahu goreng, lalapan, nasi merah dan sambal. Tidak ada hidangan laut, Ros hanya memasak hidangan rumah biasa.

"Waaaahh,,” ujar Gavi berdecak kagum, setelah lamanya tidak merasakan masakan ibunya. Sederhana namun berhasil menggugah indera perasanya dan berhasil meningkatkan nafsu makannya.

Lengan ros bergerak, menyiapkan nasi di piring Gavi, tak berhenti di situ ia juga terlihat memberikan potongan ikan yang sudah bersih dari tulangnya. Berbeda dari biasanya, kali ini Gavi mendapat perlakuan khusus dan menerima perhatian ibunya dengan lengan terbuka.

Lengan gavi bergerak cepat, menyendok makanan bersama lauknya. Kemudian mnyodorkannya ke arah ros.

Lihat selengkapnya