Dearly

MiiraR
Chapter #94

Nadir

Tidak ada lagi perlawanan yang Zoya berikan, ia hanya menerima perawatan yang Gavi berikan. Bahkan setelah kata-kata kasar yang ia tunjukkan kepadanya. Gavi tetap pada keputusannya untuk tidak membiarkan Zoya sendirian di tempat ini, Ia datang di waktu Zoya sedang membutuhkan bantuan.

Tidak ada tatapan sinis ataupun umpatan kasar yang Gavi berikan untuk balasan dari apa yang Zoya lakukan sebelumnya. Justru Ia datang, untuk menemani dan merawatnya. Memberikan perhatian dari hal-hal terkecil sekali pun.

Hal itu, menumbuhkan pertanyaan lain di hati Zoya. Apa yang Rio lihat darinya, kenapa Ia tidak bisa berterimakasih atas perhatian tulus Gavi terhadapnya. Dan malah menganggap semua itu hanyalah usaha untuk menjauhkan Zoya dari Rio.

Lengan Gavi terus bergerak menaruh icebag ke pundak dan kepala Zoya secara bergantian, berusaha membuat suhu tubuhnya turun.

Keduanya bertahan di tempat itu, untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada obrolan yang terdengar, hanya ada suara helaan nafas berat yang memiliki banyak arti.

Udara malam terasa semakin dingin, Gavi beranjak merapihkan sepatu dan memasukkannya ke dalam tas Zoya. Lalu, langsung mengaitkan di bahu kanannya.

“Ayo" ajak Gavi, tubuhnya beranjak. Lengannya terulur, siap membantu Zoya.

Zoya berusaha menolaknya, Namun tubuhnya memberi peringatan lain. Ia belum pulih seutuhnya, banyak tenaga yang hilang dari badannya membuat Ia kesulitan walau hanya untuk berdiri saja. Akibat dari rasa kaku dan pegal yang di rasakan tubuh bagian bawahnya.

Gavi menekuk lututnya, merendahkan tubuhnya agar bisa menggendong Zoya di punggungnya.

“Maaf,” ucap Zoya merasa bersalah, karena harus merepotkannya.

“Gapapa!” Jawab Gavi, membalas dengan kata-kata khasnya.

Langkah kaki Gavi berjalan pelan, di belakang punggungnya terdapat Zoya sedangkan di bagian depan terlihat Ia membawa tas besar milik kakak perempuannya.

Tidak ada kemarahan yang pantas Ia rasakan, Gavi menerima keluhan, kemarahan dan kekecewaan yang Zoya berikan. Menurutnya, Ia layak mendapatkan hal itu. Dengan begitu, Ia bisa mengetahui letak kesalahannya dan tidak bersikap seenaknya.

Zoya menempelkan ujung dahinya di belakang kepala Gavi, jarak itu terlalu dekat sehingga bisa membuat Gavi merasakan hembusan nafasnya.

Bayangkan betapa memalukannya hal ini untuk Zoya, dengan kesombongan dari mulutnya Ia terus meminta Gavi untuk pergi dan menjauh darinya. Namun, lihat sekarang. Tubuhnya tidak bisa berbohong dan membuat ia harus menyadari kekalahan dan menerima setiap bantuan yang Gavi berikan. Bertindak seolah kejadian satu jam yang lalu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya.

Tap

Gavi menurunkan Zoya, dari punggungnya. Lengannya bergerak mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celananya.

Bola mata Zoya bergerak melihat ke arah Gavi dan mobilnya secara bergantian.

"Mobil siapa nih?" tanya Zoya, tahu jika benda ini bukan miliknya.

"Teman...," Balas Gavi.

Lihat selengkapnya