Dearly

MiiraR
Chapter #95

Break

"Gue lapar...,” dua kata itu keluar dari mulut Zoya, memecah keheningan panjang yang terjadi di antara keduanya.

"Gue juga," balas Gavi.

"Mau makan apa?" terusnya.

"Apa saja terserah, gue ikut" balas Zoya, Ia hanya ingin lebih lama sampai ke rumahnya.

"Bakmi mau? Eh jangan deh masa langsung makan mie,” ucap Gavi, lalu kembali menarik tawarannya.

Zoya mengangguk setuju, itu makanan yang terlalu berat untuknya.

“Steak?” tawar Gavi, lagi.

" Nggak,” balas Zoya tegas.

"Dimsum?"

Zoya kembali menggelenglan kepala, menolaknya.

"Gultik?" tanya Gavi.

"Nggak, tempatnya pasti rame banget apalagi jam segini," tolak Zoya, mengingat tempat itu ada di sebuah blok yang tengah hype sekarang.

"Oh mau yang lebih private?" Ujar Gavi.

"Ngga private juga, kemana aja bebas...," balas Zoya.

"Makan di resto sunda gimana?" tanya Gavi, lagi.

Zoya kembali menolaknya.

“Padang?” tanya gavi.

"Ngga."

“bakso? Baso tahu? Martabak? Nasi goreng? Seafood or bbq ? shabu-shabu? Shusi? ” Gavi terus mengabsen kedai makanan yang di lihatnya.

Namun, tidak ada satupun yang Zoya iyakan.

“Masih ngga mau juga?"ucap Gavi.

Zoya mengangguk, mengiyakan.

"Terus mau apa? Mau gue aja yang masak atau makan di rumah lo aja gimana?” terus Gavi, memberi saran.

" Ngga mau, gue lagi ngga mau pulang!” jawab Zoya, ia enggan menghadapi kemarahan Evan dan Jasmine kedua orang tuanya.

"Lo bisa ngga, bawa gue ke pantai aja? Gue lagi pengen kesana?" ujar Zoya, memberikan sebuah permintaan.

Gavi menggeleng, pasrah. Ia tidak bisa membawanya kesana.


“Nanti aja, udah pertunjukan selesai kita pergi bareng kesana bareng Papa sama Gilang juga,” ucap Gavi, setelah melihat rait wajah Zoya yang kembali murung.

“Sekarang mepet banget Zoy,” balas Gavi, memberi sebuah alasan.

Zoya mengangguk, mengiyakan. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, ia tidak ingin memaksa Gavi dan membuat Gavi kelelahan karena harus menuruti keinginannya.

Mobil berhenti, tepat di depan kedai soto.

"Gue mau makan disini," ujar gavi, lengannya bergerak melepas sabuk tangan dari tubuhnya.

"Kalau lo mau, turun aja!”

Lihat selengkapnya