Dearly

MiiraR
Chapter #98

if I

Di tempat lain, dengan jarak sepuluh meter di tempat Ros. Gavi bersembunyi di balik tembok, memerhatikan punggung ibunya yang menatap lama ke arah loker.

Selain rasa kecewa, entah apa yang sedang Ros pikirkan terhadapnya.

Gavi menghela nafasnya, ia kembali mengambil keputusan yang entah baik atau buruk untuknya. Ia tidak tahu.

Hanya saja, Gavi tidak ingin melibatkan Ros di dalam hidupnya. Sudah terlalu banyak kepahitan yang perlu ia rasakan dari keluarga ayahnya. Dan Gavi, tidak mau menambah beban yang harus ia rasakan.

Pertemuan yang terjadi kemarin, sudah cukup untuknya. Ia tidak bisa bersikap serakah dan terus mengorbankan orang lain demi hidupnya lagi.

Mungkin keputusan yang ia ambil, akan sulit untuk Ros terima. Dan jika Ros berakhir dengan membencinya tidak ada pilihan lain bagi Gavi selain menerimanya dengan lapang dada.

“Ayo...,” ajak Fita.

Setelah perbincangan di restoran tadi, Fita semakin yakin untuk membantu Gavi. Rasanya, ia seperti tidak memiliki siapapun lagi yang bisa di andalkannya. Dan di tengah kekosongan itu, Fita hadir menjadi bagian hidup yang tidak pernah Gavi rencanakan sebelumnya.

Fita mengajak Gavi pergi ke Mall, membawanya ke sebuah toko jam. Membeli jam tangan pintar yang di lengkapi dengan sensor untuk memantau detak jantung, kadar oksigen, pola tidur, hingga tekanan darah. Agar ia bisa mengetahui kondisi Gavi dari jarak jauh tanpa menunggu anak itu memberitahunya.

Ia tidak ingin membuat kesalahan dan kembali kehilangan waktu untuk menyelamatkannya. Fita yakin, akan ada cara yang bisa membantu Gavi sembuh. Terlebih, dengan perkembangan jaman yang semakin maju.

##

Gavi kembali menatap wajahnya di depan cermin, memeriksa penampilannya yang sudah siap memakai seragam sekolah yang di baluti dengan jas almamater khas tempat itu. Di lengannya, kini tersemat jam baru yang Fita berikan di hari sebelumnya.

“Huh...,” Gavi kembali mengatur nafasnya, membuat dirinya lebih tenang lagi.

Kepalanya kembali menunduk, kembali merasakan bersalah karena harus meninggalkan Ros begitu saja. Gavi tidak memiliki keberanian untuk menghampirinya, memperkenalkan Ros kepada Fita. Begitupun sebaliknya, ia tidak mau Ros mengetahui apa yang tengah di hadapinya. Mengetahui penyakitnya, hanya akan menambah beban dan rasa bersalah di hati Ros. Ia yakin, ibunya pasti akan melakukan apapun untuknya meski harus memberontak kepada Juna.

Dan Gavi tidak bisa membiarkan Ros melakukan itu untuknya.

Bagaimana Gavi bisa datang hanya untuk menambah kemalangan yang terjadi di hidupnya?

Dan sekarang hubungannya dengan Dokter Fita terasa semakin kuat tanpa sadar Gavi mulai mengandalkan dan bersandar kepadanya. Hal yang biasa ia lakukan kepada Zoya, namun sekarang ia tidak bisa melakukannya.

Gavi tidak bisa egois dan terus meminta Zoya untuk bersamanya meninggalkan kehidupan yang sudah lama di milikinya.

Terdengar aneh, tapi tidak ada hal yang bisa Gavi lakukan lagi untuk memperbaikinya selain bersikap menjauh dari keduanya.

Tring tring

Jam pelajaran berakhir lebih awal.

Gavi melangkahkan kakinya berjalan keluar kelas, dengan lengan yang membawa pouch tab ia menuju ke ruang broadcast.

“Lo lanjut aja, gue cuman mau diam disini...,” ujar Gavi kepada Radit yang kini mengambil alih siaran.

“I..ya ka,” balasnya terdengar canggung mengingat ada perbedaan tingkatan kelas di antara keduanya.

Lengan Gavi bergerak menggeser bangku, lalu duduk di atasnya.

Selanjutnya ia membuka dia halaman di tab sekaligus. Memeriksa daftar tugas yang sudah dan belum ia kerjakan, dan menambahkan catatan bila perlu.

Kring

Sebuah pesan dari Zoya masuk, dengan cepat ia membuka balon obrolan keduanya.

Gavi : Zoy, gapapa lo ga perlu datang ke sekolah hari ini!

Lihat selengkapnya