Dearly

MiiraR
Chapter #99

Dragging

Kekhawatiran yang ia bicarakan dengan Fita kemarin, kini terjadi. Pertanyaan itu berasal dari teman-temannya, sumber yang tidak pernah bisa Gavi bayangkan sebelumnya.

“Benar, kayanya kejadiannya baru kemarin yah Gav!”

“Gercep banget kadonya langsung di pakai gini...,” tarus Guntur menekannya. Sembari menunjuk ke arah jam baru yang Gavi pakai. Dan di foto itu terlihat bagaimana keduanya berjalan keluar dari toko jam tangan.

Gavi menggigit bibir bawahnya, merasa kesal dan marah atas perlakuan yang teman-temannya berikan.

Tap

Gavi menepis tangan Guntur dari lengannya. Lalu, tubuhnya bergeser menghadap ke arah Gista.

“Soal yang mau kamu omongin tadi, apa tentang hal ini juga?” tanya Gavi, penasaran hal apa yang mendorong Gista menemuinya.

Kepala Gista mengangguk, mengiyakan.

“Apa pendapat kamu ke aku sama juga kaya mereka?” tanya Gavi, lagi.

Gista diam, tak menjawab.

Gavi menghela nafasnya, ia kembali menatap teman-temannya. Kini tatapan mereka terasa seperti penghakiman untuknya. Tak ayal, ia juga melihat sebagian orang yang terus berbisik tentangnya.

“Jawab dong Gav, kita juga lagi bicara sama Lo. Bukan Gista aja...,” timpal Dannia.

“Gue ngga akan ngasih penjelasan apapun, terserah kalian mau mikir apapun tentang gue. Gue, ga peduli!” ujar Gavi memberi pernyataan.

“Aiiish...,” terdengar suara decakan kesal.

“Kenapa?”

“Lo lagi lindungin orang-orang itu?” tanya Dannia.

“Kalian punya waktu ya buat urusin hal kaya gini?” tanya Gavi, lalu meminta teman-temannya fokus dan melanjutkan agenda hari ini.

“Udahlah Gav, ga usah jadi yang peduli tentang pertunjukan ini...,” terus Abuy. Sebuah kalimat yang kembali memukul hati Gavi.

“Lo bawa kak Zoya kesini juga, biar lo bisa pergi seenaknya aja kan?” timpal Guntur, lagi.

Di saat yang bersamaan Zoya masuk, mendengar namanya disebut membuat langkahnya terhenti.

Bingung, itu yang Zoya rasakan. Tidak ada sambutan hangat yang ia terima, yang ada hanya keributan yang terasa semakin memanas.

Zoya masih belum tahu, apa yang menjadi pemicu utama keributan ini, haruskah mereka saling berteriak. Dan di tengah banyak orang kenapa tidak ada yang mencoba menghentikan keduanya.

Gavi menatap tajam ke arah teman-temannya, ucapan yang Guntur berhasil memantik amarahnya.

“Yaa? Lo pikir gue lakuin ini buat diri gue sendiri?” tanya Gavi.

“Kalau seandainya, gue tahu sikap kalian kaya gini. Gue ngga akan pernah minta Zoya buat datang!”

Gista menghela nafas berat, seperti biasa setelah mendengar nama Zoya di sebut. Gavi selalu bereaksi dengan jelas menunjukan keberatan seolah nama itu tidak boleh di usik siapapun.

Lihat selengkapnya