“Sadar Gav...,” ujar Gilang berusaha menyadarkan adiknya. Tentang perbuatan bejat yang sudah di lakukan ibunya kepada mereka.
“Apa yang dia kas...”
“Stop Lang...,” ujar Zoya, menghentikan Gilang sebelum anak itu bicara sembarangan.
Merasa tidak di dengar, pada akhirnya membuat Zoya melepaskan tamparan kepada Gilang untuk menyadarkannya.
Tubuh Gilang terdiam mematung, tamparan yang Zoya berikan terasa begitu tajam dan meninggalkan rasa perih yang luar biasa. Gilang menyerah, ia melepaskan lengannya dari tubuh Gavi.
“Ya...? Apa yang lo lakuin Zoy?” tanya Gavi, tidak bisa menerima kakaknya mendapat pukulan seperti itu.
Plak
Untuk menghentikannya, Zoya juga memberi tamparan yang sama kepada Gavi. Membuatnya sama dan adil.
Bola matanya bergerak melihat ke arah Gavi dan Gilang secara bergantian. Ia bisa merasakan dengan jelas perasaan yang tengah menguasai keduanya.
Tatapan mata Gilang yang masih berapi-api, dengan suara nafas yang terus menderu. Berbeda dengan Gavi, matanya terlihat begitu nanar menjelaskan bagaimana keadaan ini menyiksanya.
Lengan Zoya bergerak mengusap air mata yang membasahi pipinya, belum satu jam kedatangannya. Namun, ia sudah merasa jika energi fisik dan mentalnya sudah terkuras.
“Kalian tahu waktu kita menuju pertunjukan udah ga lama lagi, dan sesuai yang agenda hari ini kita GR, ” ujar Zoya
“Aku cuman mau ngingetin, Seperti di awal setelah masuk Aula kita akan fokus sama peran dan job kita masing-masing.”
“Jadi silahkan kembali ke tempat dan tugas kalian, dalam lima menit GR akan di mulai...,” terus Zoya memberi arahan.
Ia kembali bergerak, bukan untuk menenangkan kedua adiknya. Namun, kembali mengarahkan anggota yang lain mengingatkan mereka kepada tanggung jawab yang sedang di embannya. Dan berusaha melupakan apa yang terjadi sebelumnya.
“Tenangin diri kamu dulu Lang,” ucap Zoya.
“Lo juga Gav!” timpalnya.
Keduanya mengangguk kompak, mengiyakan. Gilang berjalan ke belakang panggung, sementara Gavi berjalan ke atas tribun untuk menenangkan pikirannya.
“Kita minta maaf ya kak, kita ngga maksud bikin keributan ini...,” ujar Abuy mengungkapkan rasa bersalahnya.
“Jangan minta maaf ke aku, Kamu tahu siapa yang paling pantas dapat kata itu dari kalian...,” balas Zoya.
Kepala Abuy mengangguk, ia benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi tidak seharusnya ia ikut larut dalam emosinya.
Sebagai seorang ketua, seharusnya ia bisa mendamaikan anggota bukan malah memperkeruhnya. Ia tidak tahu, jika seandainya Zoya tidak datang, akan berakhir seburuk apa. Bisakah ia memisahkan Gavi dan Gilang, lalu, mampukah ia kembali memberi arahan pada teman-temannya.
“Makasih kak...,” terus Abuy.
Zoya tersenyum, ia membiarkan anak-anak itu kembali bicara dan berdiskusi sementara ia berbicara dengan Gavi.
Melihat kedatangannya, Gavi berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Ia duduk di salah satu tribun, sedangkan Zoya berdiri di hadapannya.