Dearly

MiiraR
Chapter #101

Rude top

Brug

Suara pintu atap tertutup.

“Lo ketemu ibu Gav?” tanya Gilang, menyambut Gavi dengan pertanyaan yang sudah lama ingin di ketahuinya.

Gavi mengangguk kecil, tidak ada alasan untuk ia membohongi Gilang.

“Buat apa Gav?” tanya Gilang lagi, di iringi desahan nafas kasar. Menunjukkan, jika ia tidak suka dengan jawaban yang di dengarnya.

“Gue Cuma ngga sengaja ketemu aja Lang...,” ujar Gavi, menceritakan kebenarannya.

Kepala Gilang menggeleng, tidak bisa mempercayainya.

“Ngga sengaja lo bilang? terus yang ada di foto itu apa dong."

"Anak-anak juga lihat kalau Lo keluar dari rumahnya, naik sepeda bareng...,” ucapan Gilang terhenti, rasa sesak semakin menumpuk di dadanya membuat ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya.

“Kenapa Gav? Kenapa harus dia yang lo temuin?” ujar Gilang terus mendesaknya.

Gavi terdiam, ia tidak tahu bisa menjelaskan semuanya dari mana. Semuanya pun masih terasa rumit untuknya.

“Lo lupa apa yang udah dia lakuin ke kita?”

“Dia ninggalin kita Gav, demi cowo barunya itu!” ujar Gilang berusaha menyadarkan Gavi tentang perbuatan ibunya di masa lalu yang memalukan untuknya.

“Bukan Lang!” bantah Gavi.

“Percaya gue, Mama ngga pernah lakuin hal itu...,” yakin Gavi.

“Ga usah tutup mata!” potong Gilang, ia tidak bisa mengerti kenapa Gavi begitu membelanya.

“Kalau dia emang ngga pernah pergi, kenapa selama ini dia ngga pernah berusaha buat temuin kita?” tanya Gilang.

“Dia ada lang, Dia selalu ada di sekitar kita. Cuman, kitanya aja yang ngga pernah sadar!” gumam Gavi di dalam hatinya.

“Karena dia ngga bisa lakuin itu Lang, lo tahu sifat Oma kaya gimana?” Jawab Gavi.

“Kayanya ada yang salah deh dari lo Gav, bisa-bisanya lo bicara gitu ke orang yang udah rawat kita dari kecil,” balas Gilang, tidak bisa menerima fakta yang Gavi berikan.

“Kalau itu emang yang lo yakinin, gue ga bisa apa-apa lagi,” ujar Gavi, menyerah.

“Tapi, tolong jangan pernah paksa gue buat percaya dan yakin dengan sudut pandang lo!” terusnya.

“Terus lo mau terus ketemu orang itu?” tanya Gilang.

“Ya, kenapa engga!” balas Gavi.

“Lo tahu ga sih Gav, apa yang lo lakuin itu mungkin ngelukain hati Papa!” ujar Gilang, mengingatkan.

“Gue, ga peduli!” jawab Gavi dengan cepat.

“Lo egois Gav, sejak dulu lo ngga pernah berubah!”

Lihat selengkapnya