“Maaf...,” rintih Gilang, ia tidak tahu hal apa yang bisa menggambarkan rasa penyesalan yang di milikinya saat ini.
“Lo pikir hal itu bisa menebus semua hal yang gue rasain selama ini?” tanya Gavi, permintaan maaf yang Gilang berikan tidak akan pernah bisa menebus semua hari-hari menyesakkan yang pernah di lewatinya.
“Ngga lang, ngga akan pernah bisa!”
Selama ini, ia berusaha melupakan, mengerti dan memaafkan apa yang sudah mereka lakukan untuknya. Namun, itu bukan hal yang bisa di lakukan dengan mudah. Banyak perdebatan batin yang ia lalui, dan itu terasa melelahkan dirinya secara fisik maupun mental.
“Gue fikir, gue bisa bersikap bodoh dan menganggap semua itu ngga pernah terjadi. Sehingga gue bisa lanjutin hidup gue seperti sebelumnya...,” balas Gavi mengatakan apa yang ia rencanakannya.
“Harusnya itu yang lo lakuin Gav, bukan ngerengek kaya gini!” balas Gilang.
Gavi manatap tak percaya dengan jawaban yang ia berikan. Mengapa ia bisa bersikap tenang seolah itu bukan hal yang besar untuknya. Tidak bisakah Gilang merasakan kehancuran dan ketakutan apa yang harus Gavi rasakan setiap harinya.
“Lo pikir mudah lakuin itu Lang?” tanya Gavi.
Gilang mengangguk kecil.
Kepala Gavi menggeleng kuat, untuk ke sekian kalinya ia merasakan adanya perbedaan sudut pandang di antara keduanya.
Langkah Gavi berjalan mundur, sekarang ia sadar jika ia tidak memiliki pandangan yang sama. Oleh karena itu, Gavi memutar tubuhnya berbalik meninggalkan Gilang di tempat itu sendirian.
Brug
Setelah satu langkah menuruni tangga, Gavi kehilangan keseimbangan karena salah menapak dan membuatnya turun dari tangga dengan cara berguling.
“Awww...,” ujarnya mengerang kesakitan.
“Huh...,” suara tarikan nafas yang keluar dari mulut Gavi.
“Gav, ini gue Renata. Lo bisa dengar suara gue kan?” ujar Renata berusaha menyadarkan Gavi dan membantunya bersandar di tembok.
Gavi mengangguk, ia bisa mendengar suaranya.
“Gue ngga papa...,” ujar Gavi sembari berusaha menarik senyum di bibirnya.
“Ngga papa gimana, dahi lo tuh berdarah!” sentak Renata.
“Zoya dimana?” tanya Gavi, kini ia sangat membutuhkannya.
“Dia pergi, tadi handphonenya terus bunyi! Jadi dia minta gue buat diam disini!” ujar Renata menjelaskan.
Gavi mengangguk, mengiyakan.
“Periksa Gilang ren, kayanya dia yang lebih terluka!” ujar Gavi meminta Renata untuk meninggalkannya.
“Beneran, lo bisa sendiri?” tanya Renata memastikan.
Gavi mengangguk, mengiyakan.
Renata membangkitkan tubuhnya, siap melangkah pergi menemui Gilang dan memastikan kondisinya dengan matanya sendiri.
Dengan tenaga yang masih tersisa, Gavi berusaha bangkit dan meneruskan perjalanannya.
“Akhhhhh...,” suara erangan terus terdengar.
Rasa pusing berkunang-kunang langsung menyerangnya tepat setelah ia berdiri, suara dengungan di telinganya terdengar semakin nyaring, detak jantungnya terus berkejaran dengan suara tarikan nafasnya.
“Ngga, jangan sekarang!” ujar Gavi meminta tubuh, hati dan kepalanya saling bersinergi.
Bruk