Dearly

MiiraR
Chapter #103

Best

“Thanks ya Ren, udah nemenin gue hari ini...,” ucap Gilang di atas motornya kepada Renata yang berada di jok penumpang.

Sejak tadi pagi ia selalu berada di sampingnya, Selama di belakang panggung ia membantu menenangkan Gilang sehingga ia bisa menyelesaikan latihan dengan baik. Sore tadi ia juga datang menghalau hujan yang hampir membasahi tubuhnya, mengobati setiap luka yang ia dapat dari adiknya dan sampai sekarang ia masih bersamanya. Dengan motor milik Gilang, keduanya mengitari kota. Mencoba mengalihkan perasaan duka yang ia dapat dengan melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit, hutan kota serta merasakan dinginnya angin yang menembus tubuhnya.

Renata mengangguk mengiyakan, lengannya memeluk erat tubuh Gilang merasakan kecepatan motor yang melaju semakin cepat.

Gilang tersenyum, hari ini banyak kejutan yang harus di terimanya. Masih banyak hal yang sukar di mengerti. Namun, waktu terus berjalan. Dan melalui ini bersama Renata membuat hatinya lebih hangat dan apa yang sudah ia lalui terasa lebih ringan.

Setidaknya, masih ada satu orang yang tetap berada di sampingnya terlepas dari penolakan yang Renata berikan sebelumnya. Semua perhatian dan perlakuan yang Renata berikan, membuat Gilang semakin jatuh ke dalam pesonanya. Di hari ia merasa di lucuti, perempuan ini tetap menggenggam dan membersamainya.

Cittt

Motor terhenti, tepat di depan gang Rumah Renata, tiga detik kemudian tubuh Renata bergerak turun. Lengan Gilang terangkat, membantu Renata melepas helm dari kepalanya.

"Mau mampir sebentar?” tanya Renata, berharap Gilang mau bergabung makan malam bersama keluarganya.

“Maaf Ren, lain kali aja!” balas Gilang, ia tidak ingin menemui orangtua Renata dengan keadaan seperti ini. Takut, jika mereka akan berpandangan buruk tentangnya dan membuat Renata tidak bisa menemuinya lagi.

“Oh oke...," jawab Renata.

"Makasih ya Lang. Perjalanannya menyenangkan! ” terusnya lagi.

Gilang mengangguk, dengan senyum mengembang yang terus terukir di wajahnya. Sementara di dalam hati kecilnya ia berharap bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bersama dengan Renata. Mendalami apa isi hatinya? Bagaimana pandangan ia terhadap Gavi maupun dirinya? Juga banyak hal lainnya.

Namun, di titik ini Gilang merasa harus lebih menahan diri. Agar kejadian tadi siang tidak kembali terulang.

Ia tahu, apa yang di lakukannya sudah terlalu ceroboh. Dan mungkin saja perkataan yang ia berikan sangat melukai hati Gavi. Namun, entah kenapa ia benar-benar kehilangan kendali dan malah fokus pada rasa sakit yang di dapatnya.

Gilang kembali menghela nafasnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia berharap tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi di masa depan.

##

Pengabaian yang selalu Zoya berikan untuk Rio, mendorongnya untuk bertindak lebih jauh. Kesal dan marah setelah semua pesan yang di kirimkannya tak pernah mendapat balasan baik dari Zoya.

Sebenarnya apa yang Zoya inginkan darinya? Kenapa ia kembali memberi jarak? Apa hubungan ini sudah tdak penting lagi untuknya? pikir Rio.

Bersumber dari sosial media, Rio juga datang ke tempat yang di selenggarakannya acara. Mengetahui mobil milik Gavi berada disana, membuat rasa jengkel Rio kembali terpancing. Kesal karena semua peringatan yang ia berikan tidak pernah di dengarnya.

Jadi Rio memutuskan untuk menunggu di parkiran, berharap bisa bicara dengannya lagi dan semakin memperjelas semuanya.

Namun, setelah lama menunggu. Anak itu, tidak memperlihatkan batang hidungnya.

"Hai sayang...,” sapa Rio melihat kedatangan Zoya, yang datang sendirian membuat ia memberinya sambutan hangat.

Berbeda dengan yang Rio rasakan, perasan Zoya terhadapnya kini berubah menjadi jijik. Setelah apa yang ia lakukan, Bagaimana Rio masih menemuinya dengan percaya diri seperi ini.

Rio beranjak, mendekat ke arah Zoya untuk membantunya yang terlihat kesulitan dengan barang-barang yang di bawanya.

Zoya mempercepat langkahnya, tidak memberi celah untuk Rio bisa mendekatinya. Selanjutnya, ia berjalan ke dalam mobil untuk memasukkan semua barang bawaannya ke bangku penumpang.

Lengan Rio bergerak menahan pintu mobil, agar terus tertutup dan Zoya tidak bisa masuk. Dengan begitu ia bisa berbicara dengannya.

Menyerah, Zoya kembali mengambil langkah untuk memberi jarak antara keduanya.

Sudut mata Rio terus mengikuti setiap pergerakan yang di buat kekasihnya.

“Dia nggak ikut? Tumben," ujar Rio, menanyakan keberadaan Gavi. Di saat-saat seperti ini, biasanya ia selalu ada. Menjadi asisten, supir maupun videographer untuk Zoya.

Sikap Rio yang terus menyudutkannya, terasa semakin menyesakkan bagi Zoya. Entah, apakah ia bisa lolos dari percakapan ini? Atau tidak. Semuanya terasa begitu rumit, tidak ada jeda yang Zoya miliki untuk berfikir ulang atau memperbaikinya.

“Zoy, kamu serius giniin aku?" tanya Rio, frustasi.

"Aku udah jauh-jauh dateng loh buat ketemu kamu!” terusnya, meminta Zoya agar bisa lebih menghargai kedatangannya.

Zoya mengalihkan pandangannya, isi kepalanya penuh. Tapi mulutnya terasa terkunci.

Lihat selengkapnya