Dearly

MiiraR
Chapter #104

Regtion

Kaki Zoya menginjak pedal gas, menambah kecepatan agar bisa keluar dari basement dengan cepat dan meninggalkan Rio.

Jemarinya bergerak mengusap air mata yang terus membanjiri pipinya, tak bisa di pungkiri ada rasa sedih dan sakit yang harus ia rasakan dari perpisahan ini. Terlebih ini berakhir dengan sangat buruk, meskipun begitu Rio pernah menjadi bagian hidupnya, kedunya mengukir kebahagian untuk satu sama lain, pernah saling mengandalkan dan mulai memiliki mimpi-mimpi untuk di hidup bersama untuk waktu yang lama.

Namun, kini harapan itu sudah pupus. Tidak ada harapan yang bisa ia miliki di hubungan ini. Meskipun sangat menyukainya Zoya tidak ingin hubungan ini berhasil, karena berasal dari luka yang orang lain miliki.

*#*

Jumat

Dua hari setelah pertengkaran itu, Gavi maupun Gilang tidak menampakkan dirinya di sekolah.

Menyisakkan penyesalan, rasa bersalah yang tak pernah kunjung berakhir di hati teman-temannya.

Namun, perasaan-perasaan itu tidak bisa menghentikan waktu. Mereka tetap harus menyesuaikan diri untuk melanjutkan pertunjukkan meski kemungkinan tanpa kehadiran keduanya.

"Aku benar-bnar ngga tahu kalau kejadiannya akan seperti ini kak...,” ujar Abuy, mengatakan keresahannya kepada Zoya.

“Nanti, mereka pasti datang kan kak?” tambah dannia, khawatir mengingat pertunjukan akan di gelar kurang dari satu minggu lagi.

Hening, Zoya tidak bisa memberikan jawaban. Ia pikir, masalah ini tidak akan larut begitu lama.

Namun, melihat bagaimana mereka tidak muncul dan sengaja mematikan akses komunikasi terhadap teman-teman dan juga dirinya. Meyakini Zoya jika hari itu pasti mengguncang kedua adiknya. Membuat rasa khawatir dan gelisah di hati Zoya semakin bertambah.

“Semoga ya...,” balas Zoya.

“Tapi, untuk jaga-jaga kita harus punya pemain cadangan,” terusnya.

“Aku pikir kamu bisa gantiin Gilang, latihan ya Buy kita ngga akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti!” perintah Zoya bicara kepada abuy dan memintanya untuk menyiapkan diri atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

“Tapi kak?” bala Abuy berusaha menolaknya.

“Pertunjukkan tetap harus berlanjut kan?” ucap Zoya, menghentikannya.

Semua mengangguk, setuju. Tenggat waktu semakin dekat dan apapun yang terjadi mereka harus menyajikan pertunjukkan yang sudah di siapkan ini.

“Aku ngga mau yah, masalah kemarin sampai kedengeran pihak sekolah!” ucap Zoya lagi, enggan menambah rumit semuanya.

"Iya kak, kita juga takut...,” sahut Revi.

“Gimana kalau hal ini kedengeran dan grup kita di larang tampil?” ujar Renata, menmunculkan prasangka lain.

“Ya, jangan sampai...!”

“Kalian udah siapin ini dari lama, masa mau gagal gitu aja!” ucap Zoya mengingatkan dan menyemangati mereka.

"Ayo semangat dong....,”

"Harusnya kita kerja nih, bukan malah ngobrol-ngobrol kaya gini,” terus Zoya kembali mendorong semangat anak-anak, lalu ia bangkit dari tempatnya dan bergabung dengan tim crew.

" Kak Zoya?” panggil Renata.

"Iya, kenapa Ren?" tanya Zoya lagi.

"Ini, milik Gavi. Ketinggalan...,” ujar Renata. Menyerahkan pouchbag milik Gavi.

“Oh makasih,” balas Zoya.

“Nggak bukan aku, kak. Ini, dari Gista,” ucap Renata meluruskan semuanya.

Zoya menoleh ke arah Gista. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.

"Kenapa ia tidak memberinya secara langsung dan milih menitipkannya ke Renata?” gumam Zoya, bertanya-tanya dengan jarak yang coba Gista siapkan.

Lihat selengkapnya