Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah studio yang sering Gavi datangi untuk melukis dan menyiapkan properti. Namun, di tempat itu ia tidak bisa menemukan keberadaannya. Dari jawaban teman-temannya mengatakan jika sejak properti untuk sekolah selesai ia tidak pernah datang lagi.
Berdasar dari itu, mereka menuju ke lokasi kedua.
Dahi Gilang mengerut, melihat mobil menuju daerah pinggiran.
"Ini beneran kesini?” tanya Jasmine, takut jika ia salah membaca peta.
“Udah bunda jalan aja, ikutin mapsnya!” ujar Zoya, meminta Jasmine tetap fokus.
Jasmine mengangguk, mengiyakan.
Lima menit berlalu.
Sesuai kesepakatan Gilang dan Jasmine menunggu di dalam mobil. Sementara Zoya berkeliaran keluar sendiri, mencari tahu pada orang yang pernah Gavi kenalkan kepadanya.
Dari dalam mobil terlihat, jika Zoya sedang berbincang dengan seseorang. Keduanya duduk jauh dari anak-anak yang tengah belajar bersama para relawan lain.
Rian menatap Zoya lebih dalam, ada satu yang ingin ia tanyakan padanya. Melihat bagaimana Zoya datang langsung ke tempatnya, tapi tidak bersama dengan Gavi menunjukkan pertanyaan yang sama di kepalanya.
"Zoya..., Tapi, dia baik-baik saja kan?" tanya Rian.
Zoya terdiam, di dalam hatinya ia berharap Gavi akan baik-baik saja.
"Apa dia sakit?" tanya Rian lagi.
Zoya membalasnya dengan tatapan tajam, mencoba mencari tahu ke arah mana perbincangan yang akan Rian berikan.
"Sebenarnya beberapa bulan lalu, Gavi pernah ajak gue ke RS. Disana dia ngelakuin pemeriksaan yang sangat lengkap. Butuh satu hari penuh gue temenin dia...,”
Penjelasan yang Rian berikan, menambah jawaban dari rasa ingin tahu Zoya. Kini, ia tahu siapa orang yang di ceritakan Fita sebelumnya.
Jadi, saat itu Gavi mengajaknya. Dan memperkenalkan Rian sebagai kakak laki-laki nya.
“Apa yang dokter bilang?” tanya Zoya, memastikan seberapa jauh Rian mengetahuinya.
“Gue ngga tahu, Gavi ngelarang gue buat dengar!”
“Gue tanya pun dia ngga ngasih jawaban apa-apa,” terus Rian.
Tidak ada jawaban yang bisa Zoya berikan, kini ia sadar betapa dalam pikiran dan sejauh apa tindakan yang bisa Gavi lakukan.
"Dan sejak hari itu, dia ngga pernah datang kesini lagi,”
“Tapi, dia ngga pernah lupa buat kirim santunannya ke anak-anak,” meskipun lewat transfer, Gavi tidak pernah melupakan kewajibannya.
Ia sadar, kepedulian yang di milikinya berdampak besar bagi anak-anak lain yang mungkin tidak seberuntung dirinya.
“Maaf Rian, untuk sekarang gue ngga bisa kasih tahu apa-apa ke elo...,”