Dearly

MiiraR
Chapter #107

Dsion

"Kenapa kita kesini kak?" tanya Gilang.

"Ini toko kue ibu kamu, mungkin dia ada disini juga...,” balas Zoya berbisik di telinganya.

Gilang menatap tajam, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Sebenarnya sejauh apa yang Kak Zoya tahu tentang keluarganya?Bagaimana dia bisa tahu tempat ini juga?" Tanya Gilang di dalam hatinya.

"Gavi tahu juga?” tanya Gilang.

Zoya mengangguk, mengiyakan.

"Dia ajak kakak kesini juga?" tanya Gilang lagi.

Kepala Zoya menggeleng, memberi jawaban.

"Aku yang ajak dia kesini,” balas Zoya.

“Secara nggak langsung mereka juga ketemu gara-gara aku.”

“Tapi, saat itu Gavi belum bilang apa-apa tentang ini...,” ujar Zoya menjelaskan semuanya kepada Gilang dengan mengecilkan suara miliknya. Takut, jika Ros atau orang lain akan mendengarnya.

Hari itu, Gavi membuka batasan dirinya. Dengan ajakan yang Zoya berikan dan sulit di tolaknya. Ia berhasil bertemu dengan ibunya, salahsatu alasan kenapa ia sering datang ke tempat ini.

Gavi bilang, melihat ibunya bisa hidup dengan baik saja sudah cukup. Dan, ia enggan merusak kebahagiaannya itu.

Namun, setelah pertemuan itu apakah hatinya akan ikut berubah juga? Jika tetap sama, lalu kemana perginya dia sekarang? Zoya kembali tenggelam dalam pikirannya.

Antrian sudah kosong, Jasmine bergerak maju. Dengan langkah berat Gilang mengikutinya.

“Maaf, semua kue dan roti kita sudah habis...,” ujar seorang pelayan, memberitahu jika mereka sedang kehabisan stok.

“Iya, tidak apa-apa kami bisa datang lain kali...,” jawab Jasmine.

“Sebenarnya, kita kesini datang untuk bertemu pemiliknya, mungkinkah dia masih disini? Dan bisakah kamu memintanya untuk datang?” tanya Jasmine, mengajukan permintaan.

Pelayan itu terdiam, ia tidak tahu siapa yang datang dan langsung meminta untuk bertemu dengan bosnya.

"Maaf, dengan ibu siapa ya?" Tanya pelayan.

"Saya Jasmine, temannya,” balas Jasmine memperkenalkan dirinya, kemudian ia menunjukan foto kedekatan dirinya dengan Ros yang di ambil sepuluh tahun lalu untuk meyakinkan.

“Yaa, tapi di sedang pergi!” balas pelayan itu.

“Bolehkah, saya meminta nomor ponselnya?" tanya Jasmine lagi.

Pelayan itu mengangguk, mengiyakan. Lalu,memberi kartu nama milik Ros yang selalu tersedia di kafe.

"Apakah rumahnya jauh dari sini?” tanya Jasmine, lagi.

Pelayan toko mengangguk mengiyakan, dan memberikan alamat rumah milik bosnya.

Langkah Gilang berjalan gusar, mengikuti Jasmine dan Zoya yang berjalan di depannya. Pandangan Gilang terus tertuju ke arah pesisir pantai yang begitu cantik. Deburan ombak yang tak kunjung berhenti, dan langit yang mulai berubah menjadi keemasan.

"Harusnya kita ke sini bareng kan Gav?" gumam Gilang di dalam hatinya, teringat dengan janji yang pernah Gavi berikan.

Lihat selengkapnya