Minggu
14.00 wib
Setelah beristirahat di rumah Zoya, Gilang kembali pulang ke rumahnya dengan menggunakan motor favoritnya.
Menyadari keberadaan mobil Juna di halaman rumahnya, membuat Gilang mengambil langkah besar untuk segera menemuinya.
"Baru pulang?" tanya Juna.
Pertanyaan itu membuat Gilang menghentikan langkahnya. Selanjutnya pandangan Gilang beralih, menatap ke arah Juna yang tengah duduk di sofa dengan lengan yang memegang cangkir.
Satu detik kemudian, kepala Gilang mengangguk untuk menjawab pertanyaan Juna sebelumnya..
"Dari mana aja Lang?" terusnya, kembali mengajukan pertanyaan.
"Habis jalan bareng teman pa!" balas Gilang.
"Sampai berantem?” ujar Juna, menyadari luka yang Gilang miliki di bagian wajahnya.
" Nggak Pa, ini cuman kecelakaan kecil aja...,” balas Gilang lagi.
“Yakin? Tidak ada orang lain yang sengaja melukai kamu kan?” telisik Juna.
“Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit?" ajak Juna.
"Nggak usah Pa, bentar lagi sembuh kok!” tolak Gilang.
"Iya, pastika ini tidak pernah terjadi lagi Lang!" terus Juna memberi peringatan.
Gilang mengangguk, setuju. Ia akan memastikan hal ini tidak pernah terulang lagi.
"Oh iya, Pa. soal Gavi, apa dia menghubungi papa?” tanya Gilang.
Tap
Juna meletakkan gelasnya di meja.
“Iya, dia menghubungi papa,” balas Juna.
Gilnag terdiam, mencari tahu apa yang di perbincangkan keduanya.selama beberapa hari terakhir ia kesulitan menghubunginya. Namun, mendengar ia saling berkabar dengan Papa memberikan angin segar untuk Gilang.
“Sepertinya pertunjukkan itu sangat menyiksa Gavi, dia bilang untuk beberapa saat dia tidak bisa pulang ke rumah...,” ujar Juna.
Jawaban itu, bukan jawaban yang bisa memuaskan hati Gilang.
"Apa rerjadi sesuatu disana? Apa mereka melimpahkan semua pekerjaan itu kepada Gavi?” tanya Juna, lagi mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di sekolah.
Glek
Gilang menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Perasaan gugup kembali memenuhi hatinya.
“Benarkah itu yang Gavi katakan? Apa dia tidak mengatakan apapun tentang perkelahian yang di antara keduanya?" tanya Gilang, di dalam hatinya. Ia benar-benar tidak tahu, keadaan ini terlalu pelik dan sulit untuk ia mengerti.
"Nggak, Pa!” balas Gilang.
" Papa tahu sendiri, kalau Gavi sangat perfeksionis.”
“Mungkin hal itu yang sekarang sedang membebaninya,” terus Gilang, mengatakan pendapatnya.
Juna mengangguk, setuju. Ia tidak bisa menghentikannya, terlebih ini hal yang paling di gemari puteranya. Setidaknya, di sisa-sisa waktu yang di milikinya. Juna bisa melihat Gavi melakukan apa yang dia sukai dan menyenangkan hatinya.
“Kalau gitu, Gilang bersih-bersih dulu ya pa,” pamit Gilang.
“Iya, istriahatlah. Nanti, kita bertemu lagi saat waktunya makan malam!” ujar Juna menjadwalkan pertemuan selanjutnya. Ia sadar, sudah terlalu sering meninggalkan dan membuat Gilangsendirian di rumah. Terlebih akhir-akhir ini Gavi juga sering pulang terlambat
Untuk menebus kesalahannya, Juna akan memberikan malamnya kepada Gilang. Mendengar apa yang terjadi dengan kehidupannya. Apa yang membuat ia marah, senang dan bersemangat. Pikir Juna, menyiapkan hari yang sempurna untuk anak sulungnya.
Enam jam berikutnya, di kediaman Juna.