“Sekarang kondisi Gavi kurang baik, jadi dia tidak bisa bertemu siapapun!” ujar Juna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Lengan Gilang melemas, ia melepas cengkramannya dari Juna. Langkahnya berjalan mundur, berharap apa yang di dengarnya tidak benar. Namun, melihat reaksi Juna yang terus menunduk dan mendesah berat. Membuat hati Gilang terasa semakin berat.
Untuk sesaat, ia kembali menatap Juna. Berharap ada kalimat lain yang ia ucapkan untuk menenangkan hatinya.
"Ijinin Gilang ketemu Gavi, sebentar aja...," Terus Gilang memohon.
Namun, Juna tetap pada keputusannya untuk tidak membiarkan keduanya bertemu.
“Kenapa dia bisa? Tapi, Gilang nggak Pa?" tanya Gilang, tidak Terima dengan penolakan yang Juna berikan.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Juna.
"Orang itu, orang yang udah ninggalin kita. Kenapa sekarang dia tiba-tiba di sini?"
"Mau sok-sokan jadi pahlawan?”
"Basi, tahu nggak?” ujar Gilang, meluapkan apa yang di rasakannya.
"Dia ibu kamu, bukan orang lain!” tukas Juna.
Gilang mengalihkan pandangannya, enggan menerima fakta itu.
“Dia nggak pernah ninggalin kita, justru Papa yang ngebiarin ibu kamu pergi...,” jelas Juna
Namun kalimat-kalimat itu tidak bisa memenangkan hati Gilang, ia tetap percaya pada apa yang di rasakannya. Selama beberapa tahun terakhir tidak ada kata perpisahan yang Ros berikan, membuat ia merasa jika sudah di telantarkan. Begitu pun dengan tahun-tahun yang terlewat tanpa kehadirannya. Membuat Gilang, semakin yakin jika Ros sudah pergi dan membuangnya bersama Gavi.
"Ini ngga adil buat Gilang Pa."
"Kenapa Papa bisa ngerasa Gavi lebih aman sama dia di banding Gilang?” tanya Gilang, merasa tidak setuju dengan sudut pandang yang Juna miliki.
"Papa tahu, setiap hari Gilang sama Gavi sama-sama. Dan sekarang kenapa papa tiba-tiba nyembunyiin ini dari Gilang? Apa karena orang itu juga? Kenapa pa? Apa yang jadi alasan kalian lakuin ini ke Gilang?” tanya Gilang menghujani ayahnya dengan beribu pertanyaan.
Juna mengambil nafas lebih dalam, ia tidak tahu harus dengan cara apa membuat Gilang mengerti.
"Apa keberadaan Gilang udah ngga sepenting itu lagi?” tanya Gilang.
“Cukup Lang, pikiran kamu terlalu jauh!” potong Juna.
“Papa ngga bisa kasih tahu kamu, karena papa mau kamu fokus pada sekolah kamu!”
"Cukup, itu aja! Bukan karena siapa-siapa!” jawab Juna melepas rasa ingin tahu puteranya.
Kepala Gilang menggeleng, tidak setuju dengan ucapan yang Juna berikan. Bagaimana ia bisa fokus kepada sekolahnya. Sementara ia belum berhasil menemukan Gavi, setiap detik dan menit yang ia di lalui Gilang penuh dengan ketakutan, takut jika ada hal yang buruk terjadi kepadanya dan kekhawatiran itu benar-benar mengacaukan pikirannya.
Lalu, sekarang Papa Juna memintanya mengerti keberadaan Ibunya.
“Dan soal keberadan ibu kamu disin, seharusnya kita bersyukur. Kalau bukan karena dia, Kita ngga mungkin bisa lihat Gavi lagi!” balas Juna.
Gilang mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti ucapan yang Papanya berikan. Hal apa yang harus ia syukuri dari keberadaan ibunya, apa alasan ia harus berterimakasih kepadanya.
“Dia yang bawa Gavi, kesini!”
FLASHBACK
RABU
PUKUL 16.16 WIB
Plak plak plak
Lengan Gavi terus Bergerak memukul-mukul pipinya, berusaha membuat dirinya terus terjaga dan tidak kehilangan kesadarannya.
Dengan sisa tenaga yang masih di milikinya, Gavi berusaha menyeret tubuhnya untuk keluar dari gedung sekolah.
“Gavi?" ujar Ros terus memanggilnya.