Panggilan yang Juna dapat membuat ia harus segera meninggalkan rumah. Dengan perasaan risau dan cemas ia menuju ke sebuah rumah sakit swasta. Langkahnya berjalan cepat menuju sebuah ruangan yang terletak di lantai tujuh rumah sakit.
Di lorong sana terlihat seorang perempuan yang tengah duduk di kursi ruang tunggu, kepalanya tertunduk berat dan kedua lengannya mengepal kuat sementara hatinya tidak berhenti berdoa meminta pertolongan kepada tuhannya.
Juna melambatkan langkahnya, untuk waktu yang lama ia terdiam di posisi itu.
“Apa yang terjadi?" tanya Juna, dengan nafas yang tak beraturan.
Mendengar suara ini, membuat perempuan itu menengadahkan kepalanya. Bagian wajahnya basah penuh dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir di pipinya.
Melihat reaksi itu, Juna hanya bisa menghela nafas berat.
Secara, perlahan ia mendekat ke arah Ros. Bagian ujung lututnya, menyentuh lantai. Sementara kedua lengannya menutup lengan Ros yang masih saling bertautan.
Dengan tindakan itu, seolah Juna mengatakan. "Tenang, aku sudah disini!"
Ros hanya bisa terdiam, ia tidak tahu kata apa yang bisa menggambarkan perasaannya hari ini. Setelah, melihat Gavi berulang kali mengalami penurunan kondisinya membuat ia terus membayangkan skenario terburuk yang mungkin akan di hadapinya.
Namun, tanpa di sadari keduanya. Gilang juga berada di sana.
Rasa ingin tahunya mendorong Gilang untuk melangkah lebih jauh dan mengikuti Juna hingga tempat ini. Menyadari jika dirinya sudah berada di rumah sakit, membuat kepala Gilang terus bertanya "Untuk apa, Papa datang ke tempat ini di tengah malam? Siapa yang ia kunjungi? Mungkinkah oma? Tapi, ini bukan tempat yang biasa di kunjunginya."
Menyadari ayahnya sampai di tempat tujuan, membuat langkah kaki Gilang terhenti. Memberi jarak, agar kehadirannya tidak di sadari Juna dan ia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini.
Perasaan tercekat terus menghampirinya, Gilang berharap jika penglihatannya salah.
"Kenapa Mama ada disini juga? Apa yang membuat mereka tertunduk dan saling berpegangan?" Tanya Gilang di dalam hatinya.
Setelah melihat kedua orang tuanya bersama, saling menguatkan dan menenangkan satu sama lain.
"Untuk apa mereka melakukan itu? Mungkinkah Gavi ada di sini?” tanya Gilang, di dalam hatinya.
“Nggak mungkin, Papa ngga mungkin bohongin gue!” balas Gilang, membantah apa yang terbersit di kepalanya.
Tiga detik kemudian, seorang dokter muncul dari ruangan yang di tunggu kedua orangtuanya. Dari balik tiang Gilang memperhatikannya.
Mereka terlihat berbincang sebentar, sebelum akhirnya berpindah tempat. Besar keinginan Gilang untuk menahannya, namun tubuhnya tidak bisa bereaksi dengan seperti apa yang ia inginkan.
Saat ini jantungnya terus berdebar tak beraturan, ia juga merasakan kesemutan di seluruh tubuhnya.
Bruk
Pada akhirnya, Gilang mulai kehilangan keseimbangannya. Kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi.
“Akhhh...,” ujarnya mengerang, setelah merasa rasa sesak yang terus semakin mendesaknya.
Bola matanya mulai berkaca-kaca, merasakan emosi yang mulai tidak terbendung.
Pukpuk
Dengan kepalan lengannya ia terus menepuk-nepuk dadanya menghalau perasaan yang terus mengikatnya.
Tap
Air mata Gilang menetes, kenyataan ini benar-benar menghantamnya dengan kuat.