Terik sinar matahari menembus jendela ruangan Gavi, Hangat cahaya itu menyengat di bagian kaki Gilang dan membangunkannya. Dini hari tadi, Ros memintanya untuk pindah dan bergantian tidur di sofa.
Beberapa detik kemudian
Gilang beranjak dari sofa, sembari melakukan peregangan kecil. Dengan bola mata yang masih menyipit, ia melihat ke arah totebag yang Juna berikan untuknya.
"Ayo, kita harus segera pergi!” ujar Juna, mengajaknya.
Kesadaran Gilang sudah penuh, bola matanya berkeliaran mencari adik dan juga ibunya.
"Mereka sudah pergi, untuk berjemur di taman!” ucap Juna menjelaskan, sebelum di minta.
Gilang mengangguk, mengerti. Selanjutnya ia membawa tubuhnya ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
Tidak ada alasan yang bisa ia berikan untuk absen hari ini. Terlebih, persiapan menuju pertunjukkan tinggal beberapa langkah lagi. Ia tidak tahu bagaimana kondisi di sekolah, apakah ia masih menjadi perbincangan hangat di antara anak-anak karena perkelahiannya dengan Gavi.
Ia benar-benar tidak tahu. "Apakah pertunjukkan masih akan tetap berlanjut? meski, tanpa Gavi di dalamnya!” gumam Gilang terus berfikir.
Untuk terakhir kalinya, ia kembali memperhatikan adiknya. Di dalam hati kecilnya, Gilang berharap jika yang akan menemani Gavi di dalam situasi ini adalah dirinya bukan orang lain.
Namun, sekarang untuk mendekat saja ia tidak bisa melakukannya. Sadar dengan kekecewaan yang Gavi tunjukkan tempo hari.
Juna dan Gilang berangkat menuju sekolah dari rumah sakit dengan mengendarai mobil yang sama.
Kali ini Juna menyetir, di tengah perjalanan terlihat beberapa mobil mengawal dari sisi belakang depan dan samping kanan kirinya.
Kedatangan Juna ke sekolah, tidak lain tidak bukan untuk mengurus perpindahan Gavi. Dengan melakukan itu mungkin tidak akan ada orang yang akan terus menanyakan dan mencurigai kepergiannya yang begitu tiba-tiba. Hingga meninggalkan projek-projek yang masih di kerjakannya.
Mobil Juna memasuki sekolahan, kehadirannya berhasil menarik perhatian orang-orang.
"Apa caranya sudah di mulai?” tanya Juna melihat stand yang sudah berjejeran memenuhi sisi lapangan.
" Iya acara bazzarnya, akan di mulai hari ini...,” balas Gilang, mengatakan rundown acara.
Mobil terhenti.
Bodyguard membukakan pintu mobil, mempersilahkan tuannya untuk keluar.
Langkah Juna dan Gilang beriringan melewati kerumunan dan menuju gedung utama. Kehardiran keduanya terasa sangat mendominasi, membuat anak-anak tanpa sadar membukakan jalan untuk keduanya.
“Untuk hari ini, apa orang tua juga di undang?” tanya abuy, menanyakan kehadiran Juna di tengah-tengah acara pembukaan.
“Nggak, kayanya dia datang untuk hal lain,” balas Gista.
Sebenarnya, emana Gavi? Apa yang membuat ia tidak bisa datang sekolah? Kejadian itu sudah lama, namun kenapa tidak ada kabar yang bisa dapat di terimanya. Bahkan, sosial media miliknya pun, akhir-akhir ini terasa sepi tidak ada unggahan baru yang Gavi bagikan.
“Hmm...," Gista kembali menghela nafasnya, teringat kembali dengan tatapan yang Gavi berikan hari itu.
"Apa kamu juga beranggaan sama dengan mereka?" tanya Gavi, kata-kata itu terus terngiang di kepalanya dan membuat penyesalan di hatinya semakin melebar.
*
“Ren...,” panggil Gilang.
"Gilang?” balas Renata, tersenyum sumringah.
Akhirnya ia bisa bernafas lega, manusia yang beberapa hari terakhir mengisi kepala dan hatinya. Kini, Muncul di hadapannya.
"Kamu udah baikan?” tanya Renata, memastikan luka yang Gilang miliki membaik.