Dearly

MiiraR
Chapter #113

48 Hour

Di rooftop rumah sakit terdapat sebuah taman yang biasa di gunakan untuk pasien maupun keluarga beristirahat. Termasuk Gavi, dia juga berada disana di temani ibunya ia merasakan pergantian waktu. Bagian kakinya menapak tanpa alas kaki, kulitnya menyentuh langsung rumput. Membiarkan angin melewati tubuhnya, sengatan matahari yang terasa hangat di kulitnya. Setidaknya dengan itu ia masih bisa merasakan pergantian waktu dari pagi ke siang maupun sore ke malam.

Di tempat ini pun Gavi masih bisa melakukan apa yang sering di lakukannya dulu. Mencari tempat yang sunyi, dan membiarkan alam bekerja untuk menenangkan dan menyembuhkannya. Pada akhirnya, semua berjalan tidak sesuai dengan apa yang di rencanakannya. Dengan keadaannya sekarang, tidak mungkin untuk Gavi bisa kembali ke sekolah dan bisa menyelesaikan pertunjukkannya. Sebuah kenyataan pahit yang mau tidak mau harus ia terima.

Jauh di relung hatinya, ingatan Gavi tentang teman-temannya selalu terputar di kepalanya. Keramaian di ruang aula, perdebatan yang selalu terjadi, namun hal-hal itu terasa hangat di hatinya. Membuat ia semakin merindukan mereka.

Tidak ada kebencian yang ia rasakan, ia hanya merasa sayang jika semuanya berakhir seperti ini. Dengan ia tidak bisa menemui mereka lagi, apakah mereka akan berfikir hal itu ia lakukan, karena sakit hati dan mulai membenci mereka? Jika hal itu benar, berarti akan ada banyak kesalahpahaman yang kembali di buat olehnya. Namun, tidak ada cara yang bisa Gavi lakukan untuk menghentikannya.

Hal yang paling tidak pernah terbayangkan oleh Gavi, adalah keberadaan ibunya. Hingga hari pertama ia di rawat hingga saat ini ia tidak pernah membiarkan Gavi sendiri. Ia selalu menemani, merawat dan menjaganya. Dan reaksi yang Juna berikan juga terlihat begitu menarik. Bagaimana, bisa Papa mengijinkan Mama tetap di sampingnya? Dan secara tidak terduga ia juga bisa menyembunyikan hal ini dari Oma. Hal yang sebelumnya, tidak akan pernah Papa lakukan.

Kenapa? Apa Papa siap dengan resiko yang akan di terimanya nanti? Gavi tenggelam dalam pikirannya.

Lalu, bagaimana jika hal itu kembali menambah masalah untuk Mama dan Papa.

Perasan bersalah dan merasa tidak layak kembali menyelimuti hati Gavi, setelah perkataan dan perlakuan buruk yang ia lakukan terhadap Ros. Justru hidup membawanya pulang ke dalam pelukannya. Bahkan, ketika Ros berlutut di hadapannya meminta Gavi untuk terus tinggal bersamanya, meminta maaf atas semua kesalahan yang tidak pernah ia lakukan dan Gavi terus menolaknya dengan kata-kata kasar. Ros juga berusaha untuk menghampirinya ke Jakarta namun Gavi memilih untuk bertemu Fita dan mengabaikan permintaan yang Ros berikan. Saat itu, Gavi berfikir jika ia tidak bisa rerlibat lebih jauh dengan ibunya. Namun, di titik terlemahnya, di saat ia merasa di jalan paling buntu dan tidak memiliki daya. Justru ia hadir, menjadi penolongnya. Dan dengan pertolongan itu, Akhirnya ia bisa bertahan hingga sekarang meski dengan keadaan yang sudah tidak sama lagi. Tentu banyak pergulatan batin yang Gavi rasakan di dalam tubuhnya. Namun, dengan merasakan kehadiran yang Ros berikan dengan tidak pernah meninggalkannya. Membuat Gavi yakin jika hal ini bukan hal yang begitu besar dan ia bisa melaluinya.

“Maaf, karena harus membuat mama bersembunyi seperti ini,” gumam Gavi di dalam hatinya. Menyesal, karena harus menjadi salah satu kemalangan yang harus Mama Ros rasakan. Dan sekarang ia harus membuatnya bersembunyi seperti ini untuk merawat dan menjaganya.

Dan pada akhirnya, tidak bisa di pungkiri bahwa Gavi masih sangat membutuhkan Ros. Dengan kehadirannya, ia tidak perlu kembali melibatkan Zoya dan juga membebani dokter Fita.

Apakah Tuhan tidak bisa membawanya lebih cepat? Kenapa ia terus memberinya waktu dengan keadaan yang tak bisa ia mengerti.

Berlainan dengan yang Ros rasakan, ia merasa bersyukur setiap keputusan kecil yang di ambilnya membawa ia bergerak ke arah puteranya dan bisa hadir di waktu yang paling ia butuhkan. Setiap menit, hatinya terus merintih berdoa kepada Tuhan meminta hasil terbaik atas semua hal yang terjadi. Berharap apa yang Gavi katakan di pantai saat itu adalah sebuah kebohongan. Namun, melihat dengan mata kepalanya sendiri ia merintih kesakitan,membuat luka yang di alami bertambah seratus kali lipat. Oleh karena ia, memutuskan untuk terus berada di sampingnya, menembus semua waktu yang pernah terlewatkan arahnya.

“Maaf...,”

“Maaf harus membuat kamu melalui semua ini,” ujar Ros di dalam hatinya, sambil menatap kepala Gavi.

“Kamu pasti sangat ketakutan Gav...,” terus Ros.

Ia tidak tahu pergejolakan batin apa yang Gavi lalui, sehingga bisa memikirkan melakukan pengobatan sendiri. Seberapa besar rasa kecewa yang ia miliki sehingga tidak mau melibatkannya dan juga Juna dalam pengobatannya?

“Maaf seharusnya kami yang melakukan itu,bukan kamu!” tambah Ros. Sebagai orang tua sudah seharusnya merekalah yang menyiapkan dan memenuhi seluruh kebutuhan puteranya. Bukan, membiarkannya meraba-raba dan mencari jawaban sendiri.


Lihat selengkapnya