“Bagaimana dengan persiapan pertunjukkannya apa berjalan lancar?” Tanya Fita membuka perbincangan di antara keduanya.
“Dokter tahu tentang ini?” Gilang membalas dengan sebuah pertanyaan lain.
“Apa Gavi sering membucarakannya?" Terus Gilang, semakin penasaran dengan hubungan yang di miliki keduanya.
“Benar, kami sering membicarakannya," Balas Fita, kebanyakan Gavi selalu membahas ini dengannya. Ia tidak pernah menyinggung tentang keluarganya. Membuat Fita yakin jika dia anak tunggal.
"Aku sudah mengingatkan dia tentang pengobatannya,"
“Namun, Gavi menolak. Meminta aku menunggu untuk ia menyelesaikan pertunjukan ini,”
“Dan sepertinya ini sangat penting bagi Gavi,” jelas, Fita.
“B*doh, seharusnya ia tahu mana yang lebih penting!” timpal Gilang, memotong.
Selanjutnya, terdengar helaan nafas berat dari Gilang.
“Sebenarnya, aku belum bisa mencerna semua situasi ini Dok,” ujar Gilang, ia masih belum bisa meredakan rasa sesak yang terus mencekamnya setiap hari.
“Kenapa? Apa ini terasa terlalu berat?” tanya Fita, lagi.
“Jujur saja, meski aku sudah sering melihat Gavi melakukan pengobatan,”
“Aku ngga pernah siap Dok, rasanya selalu ada rasa baru yang terus membuat aku tercekat dan situasi kali ini benar-benar jauh dari bayangan yang bisa aku pikirkan,” terus Gilang mengeluarkan isi hatinya.
Saat ini, ia tidak bisa menceritakan apa yang di rasakan olehnya kepada Juna. Ia tahu jika beban moril yang tengah di hadapinya juga tidak kalah berat. Sedangkan kepada Zoya, ia belum tahu bisa menceritakan ini atau tidak. Dan untuk berbicara dengan Ros ia masih belum bisa seluwes itu. Dengan bantuan yang Fita berikan, Ia mulai mempertimbangkan untuk membuka hatinya kepada Fita. Jika Gavi bisa mempercayainya, mungkin Gilang juga bisa.
“Jadi, kamu udah tahu soal penyakit Gavi? Sejak kapan Gilang?” tanya Fita.
“Sejak awal,” jelas Gilang, kemudian ingatannya kembali teringat di hari buruk yang menimpa adiknya.
“Apa alasan kalian menyembunyikan ini dari dia?” tanya Fita, lagi.
Gilang menggeleng.
“Papa yang memintanya, dia bilang itu lebih baik untuk Gavi. Dengan begitu, ia tidak perlu merasa takut dengan apa yang mungkin akan menimpanya” jawab Gilang.
Sebuah jawaban yang menimbulkan banyak sanggahan di kepala Fita.
“Lalu bagaimana dengan pengobatannya? Bagaimana bisa ia melakukan tanpa mengetahuinya,” ujar Fita terus mengajarkan pertanyaan.
“Papa dan Oma yang merencanakan semua. Membuat kami seolah pergi untuk liburan,” terus Gilang.
Fita kembali terdiam, jadi ini alasan kenapa pada saat itu Gavi tidak bisa menerima dan menyanggah apapun yang ia katakan tentang dirinya. Saat ia ditanya bagaimana bisa menjalani pengobatan. Gavi menjawab ia juga tidak tahu dan ini terasa membingungkan untuknya.
“Setiap ini terjadi, Gilang selalu ada di sampingnya,”
“Melihat bagaimana Gavi berjuang melawan penyakit yang sama sekali ia tidak sadari ada di dalam tubuhnya.”
“Terasa sangat menyesakkan,” ujar Gilang.
Setiap detik ia berdoa, berharap bisa menggantikan kesakitan yang harus di lalui Gavi.
Kepala Gilang tertunduk, doa yang ia panjatkan tidak berbanding lurus dengan perbuatan yang ia lakukan kepada adiknya. Mengingat bagaimana ia memperlakukannya beberapa hari lalu, membuat rasa bersalah dan penyesalan semakin menumpuk di hati Gilang.
Fita hanya bisa menatapnya, di antara celah itu ia bisa mendengar isakan tangis yang coba di tahan Gilang.
“Semua ini salah aku Dok,” ujar Gilang.
“Nggak, lang...” balas Fita menenangkan Gilang.
“Ngga dok, ini emang kesalahan aku!”
“Seandainya hari itu aku bisa menahan diri, mungkin kejadiannya ngga akan se buruk ini,” terus Gilang, sembari mendesah nafas berat.