Dearly

MiiraR
Chapter #115

Weird

D-Day

Hari pertunjukan telah tiba, namun Gavi masih belum bisa Zoya hubungi. Setiap pesan yang ia kirimkan tidak kunjung mendapat balasan. Di parkiran sekolah, tubuh Zoya masih tertahan di dalam mobil miliknya. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya dan kabar yang masih belum di dapatnya dari Gavi menimbulkan kekhawatiran yang tak kunjung mereda di hatinya.

Bayangan percakapan-percakapan yang terjadi di antara keduanya juga otomatis terputar di kepala Zoya.

“Jadi itu alasan lo, berubah? Ngga mau angkat telpon gue, mundur dari pertunjukkan, ngerombak semua rencana lo, dan mulai hilang-hilangan!” tanya Zoya, masih terisak. Menyimpulkan sikap dan perubahan yang di buat anak itu.

Gavi mengangguk mengiyakan, fakta itu benar-benar merenggut kepercayaan dirinya dan secara perlahan membuat ia menarik dan mengasingkan diri dari siapapun.

“Mau sejauh apa lo bertindak?”tanya Zoya.

“Sejauh, yang bisa gue lakuin aja!” balas Gavi.

“Gue ngga akan biarin hal itu terjadi Gav” potong Zoya.

Namun sekarang ia sadar, semua usaha yang Zoya lakukan untuk menemukan Gavi masih belum membuahkan hasil. Dan bagaimana ia bisa menghentikan Gavi, sementara ia belum mengetahui keberadaannya.

Zoya membenamkan kepalanya di atas setir mobil.

Banyak perasaan yang menahannya, mengatakan jika ia tidak sanggup untuk menyelesaikan hari ini. Meminta dirinya pergi untuk mencari keberadaan Gavi. Namun, janji yang terikat diantara ia dengan Gavi selalu terbayang di kepalanya. Mengingatkan jika ia tidak bisa lari dari tanggung jawab yang di milikinya.

“Seperti yang lo lihat kemarin, mungkin hal itu juga akan terjadi di depan anak-anak.”

“Gue ngga mau jadi alasan pertunjukkan berantakan. Kalau itu terjadi yang gagal bukan cuma mimpi gue zoy. Tapi setiap usaha yang udah anak-anak keluarin ngga bakal jadi apa-apa.”

“Beda kalau ada lo. Lo bisa backup gue Zoy, gue mohon!” ujar Gavi, meminta Zoya untuk bergabung dengan pertunjukan.

“Ahhh,” suara erangan dari Zoya terdengar. Tubuhnya bergerak, kini bagian kepalanya sudah bersandar di kursi mobil. Pandangannya menatap ke arah jendela luar mobil, lalu Zoya mengeluarkan ponsel dari tasnya. Membuka balon obrolannya dengan Gavi.

“Cepat datang,”

“Lo harus selesain ini semua!!” dua pesan yang Kembali Zoya kirimkan. Menambah daftar panjang pesan yang tak kunjung di baca dan mendapat balasan dari anak itu.

Tsp

Zoya membuka pintu mobil, langkahnya berjalan turun. Ia tidak mempunyai pilihan untuk mundur.

“Ayo Zoy, ga usah khawatir. Dia pasti datang kok!” yakin Zoya kepada dirinya sendiri. Lalu, melangkah menuju aula.

Namun, hentakan dari totebag yang di bawanya terasa mengganggu. Membuat ia menghentikan langkahnya. Pandangannya menatap ke arah totebag yang ia bawa, Sesuatu yang Gavi titipkan untuk Gilang.

“Pasti karena firasat itu lo nyiapin ini semua kan?” terus Zoya, lalu sikap tenang yang ia tunjukan selama ini adalah bohong.

Setiap hari hal itu pasti berasa di pikirannya, membuat Gavi takut dan cemas, hal itu membuatnya mengambil langkah cepat sebelum semuanya terjadi di luar kendalinya.

Suara riuh memenuhi aula, diisi dengan orang-orang sound yang memeriksa kualitas suara, anak IT yang memeriksa promp dan juga anak-anak set yang masih sibuk menambahkan dekorasi.

Pandangannya tertuju ke beberapa pasang lukisan yang di gambar oleh adiknya, melihatnya menambah kerinduan di hati Zoya.

Lihat selengkapnya