Tubuh Fita tertahan di depan pintu ruangan Gavi, bola matanya berkeliaran mencari tahu lewat celah jendela kecil. Di ruangan itu, terlihat Juna dan Ros yang tengah berbincang, entah untuk mendiskusikan apa. Namun, anak yang di carinya tak terlihat berada disana. Fita memicingkan matanya, memeriksa sekali lagi.
Merasa pasti, Fita membalik tubuhnya, mencari Gavi dengan instingnya tanpa mengganggu perbincangan kedua sepasang manusia yang sudah bercerai itu.
Langkahnya bergerak cepat, matanya menelusuri semua tempat, berharap menemukan Gavi.
Sudah lama ia tidak banyak berbincang dengannya, banyak yang ingin Fita keahui. Setelah kehadiran kedua orangtuanya, Fita jadi lebih banyak berbicara dengan mereka. Mendiskusikan tentangnya tanpa memberitahu anak itu terlebih dahulu.
Bagimana perasaan Gavi sekarang? Dengan keberadaan kedua orang tuanya bukankah ini lebih baik untuknya? Atau justru itu malah merasa semakin membebaninya? Mengingat Gavi juga berusaha tidak melibatkan keduanya.
Trek
Fita membuka ruang fisioterapi, dugaannya benar dan Gavi sedang berada di sana. Bersama dengan kedua orang perawat yang tengah membantunya.
“Tolong tinggalkan kami berdua,” pinta Fita.
Kedua orang perawat mengangguk, mengiyakan. Menyisakan keduanya di ruangan itu, tidak akan ada orang lain yang masuk. Karena ruangan ini sudah di booking oleh Juna untuk beberapa jam. Ya, sebesar itulah kekuasaan keluarga yang Gavi miliki.
Gavi menyandarkan tubuhnya di tembok, lengannya meraba bagian kursi mencari botol minum. Kemudian dengan intuisinya ia memasukan sedotan ke dalam mulut. Menegak minuman itu, untuk mempersiapkan diri. Firasatnya mengatakan, jika ada hal yang ingin ia sampaikan untuknya. Selama ini tidak ada ruang, yang bisa mereka miliki untuk berbicara dengan bebas. Seperti sebelum-sebelumnya.
Tubuh Fita masih tertahan di tempat itu, namun bola matanya terus bergerak mengikuti setiap inci pergerakan yang Gavi buat.
“Beberapa Jam lagi, kita akan berangkat. Seharusnya kamu tidak melakukan ini Gav,” ujar Fita, ia tidak ingin Gavi terlalu mendorong dirinya sendiri lebih jauh.
“Gavi bosan dok, tidak bisa terus diam di ruangan,” balas Gavi. Mengatakan jika ia tidak terlalu nyaman jika harus terus berdiam di ruangan nya yang terasa sangkar untuknya.
Terlebih ia juga tidak ingin keluar dari rumah sakit dengan menggunakan kursi roda, jadi ia kembali melatih otot-otot kakinya kembali agar bisa terbiasa dan lebih kuat. Selama ini, ia terlalu banyak tertidur dan terdiam. Efek pengobatan itu juga membuat tubuhnya sering merasa lemas dan goyah.
Dan Gavi tidak ingin orang lain melihatnya, cukup Dokter Fita, Papa Juna dan Mama Ros saja yang melihatnya.
Fita mengangguk, mengerti. Selanjutnya, ia ikut duduk di samping Gavi berusaha membuka perbincangan di antara keduanya.
“How do you feel?” tanya Fita, mencari tahu apa yang sedang di rasakan anak itu. Besar harapannya, untuk Gavi bisa kembali terbuka kepadanya.
“Are you mad? (Kamu marah ya?)” terus Fita, mendapati ucapannya tidak ada yang di dahulu oleh Gavi.
“Why?” tanya Gavi, memastikan. Apa yang membuat Fita menanyakan itu kepadanya.
“Soal ibu kamu, harusnya aku bilang dulu ke kamu. Sebelum nyeritain semuanya ke dia” terus Fita.
“Tapi, kondisinya ngga mungkin buat dokter bisa ngelakuin itu kan?” tanya Gavi, dalam kondisi itu Gavi berusaha memahami. Jika itu satu-satunya cara yang bisa Fita lakukan.
Dan ia sangat yakin, Jika mama Ros sangat mendesaknya dan meminta dokter Fita untuk melibatkannya di sebuah kejadian yang melibatkan puteranya.
Fita mengangguk, setuju. Belum bilang pun dia sudah mengerti.
“Pasti Dokter terkejut,” balas Gavi.
“Melihat dia tiba-tiba ada, sementara Gavi tidak pernah membicarakannya,” terus Gavi, mulai membuka percakapan tentang ibunya.
Fita menatap Gavi lebih dalam, bahkan di saat keadaannya yang seperti ini. Dia lebih dulu memastikan perasaannya. Sesuatu yang tidak seharusnya di lakukan oleh pasien kepada dokter.
“Pasti ada alasannya kan, gav? It’s oke!” balas Fita.
“Meskipun begitu, Gavi merasa bersyukur. Karena hari itu yang menemukan Gavi, dia. Bukan, orang lain...,” terus Gavi, mengingat kembali apa yang terjadi hari itu.
“Jika, dia tidak ada disana. Mungkin, sekarang Gavi tidak bisa menemui dan berbicara dengan dokter!” timpalnya.
Setidaknya dengan kehadiran Ros di hidup Gavi, ia bisa keluar dari arena sekolah tanpa menarik lebih banyak perhatian tertuju ke arahnya. Ia juga di rawat oleh Fita, yang sekarang sangat ia percayai. Dan dengan persiapan matang yang di milikinya, jam pemberian Fita untuk Gavi bekerja dengan sangat baik. Sehingga, Ia bisa mendapat pertolongan di waktu yang tepat.
Ia juga merasakan begitu besar usaha yang di lakukan kedua orangtuanya untuk mengurusnya dan mengalahkan ego yang ada di dalam diri mereka.
“Sudah menghubungi Zoya?” tanya Fita.